Lia Cgs

Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, dialog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut, hari ini, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Preliminary Workshop “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis”, di Hotel Atria Malang, 30 Oktober – 2 November 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Ustadz/Ustadzah pesantren tentang HAM dan relasinya dengan Islam, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online.

Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung, Jan Senkyr, hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan workshop ini. Dalam sambutannya Jan Senkyr menyampaikan bahwa KAS dan CSRC sedang menyiapkan serangkaian kegiatan yang bertujuan menungkatkan peran pesantren dalam menyusun dan menyuarakan kontra narasi ekstremis dan propaganda ektremis lainnya. Kegiatan kali ini adalah awal dari seluruh rangkaian program tersebut. Harapannya semoga kegiatan ini akan mengulang kesuksesan program PfP yang sebelumnya.

Selain dihadiri oleh 30 Ustadz/ustadzah dan kyai muda dari 5 daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta),  workshop ini juga dihadiri oleh tim monitoring dan evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri pusat dan dari Kementerian Republik Indonesia yang akan mengevaluasi program kerjasama KAS-CSRC selama tahun 2017.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, Menyampaikan bahwa “Ciri utama propaganda ekstremisme adalah memilah dunia menjadi hitam dan putih; menekankan pemisahan dan perbedaan; mengeksploitasi rasa takut yang didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka.”

“Maka dari itu, kita memerlukan serangkaian narasi yang dibuat untuk tujuan menandingi narasi ekstremis sehingga audiens menolak mendukung tujua ekstremis. Itulah yang kemudian kita sebut ‘kontra narasi ekstremis’,” tambahnya.

Diakhir acara, para ustadz-ustadzah dengan semangatnya menyampaikan berbagai macam rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam program ini kedepannya.[LH]

 

Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, dialog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut, hari ini, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Preliminary Workshop “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis”, di Hotel Atria Malang, 30 Oktober – 2 November 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Ustadz/Ustadzah pesantren tentang HAM dan relasinya dengan Islam, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online.

Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung, Jan Senkyr, hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan workshop ini. Dalam sambutannya Jan Senkyr menyampaikan bahwa KAS dan CSRC sedang menyiapkan serangkaian kegiatan yang bertujuan menungkatkan peran pesantren dalam menyusun dan menyuarakan kontra narasi ekstremis dan propaganda ektremis lainnya. Kegiatan kali ini adalah awal dari seluruh rangkaian program tersebut. Harapannya semoga kegiatan ini akan mengulang kesuksesan program PfP yang sebelumnya.

Selain dihadiri oleh 30 Ustadz/ustadzah dan kyai muda dari 5 daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta),  workshop ini juga dihadiri oleh tim monitoring dan evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri pusat dan dari Kementerian Republik Indonesia yang akan mengevaluasi program kerjasama KAS-CSRC selama tahun 2017.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, Menyampaikan bahwa “Ciri utama propaganda ekstremisme adalah memilah dunia menjadi hitam dan putih; menekankan pemisahan dan perbedaan; mengeksploitasi rasa takut yang didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka.”

“Maka dari itu, kita memerlukan serangkaian narasi yang dibuat untuk tujuan menandingi narasi ekstremis sehingga audiens menolak mendukung tujua ekstremis. Itulah yang kemudian kita sebut ‘kontra narasi ekstremis’,” tambahnya.

Diakhir acara, para ustadz-ustadzah dengan semangatnya menyampaikan berbagai macam rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam program ini kedepannya.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com – Bandung – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) berkomitmen untuk melanjutkan program PFP dengan tema ”Pesantren for Peace: a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Civil-Human Rights and to Counter Extremist Narratives”. Kegiatan awal dari program lanjutan Pesantren for Peace ini yaitu Workshop dengan tema “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM melalui Kontra Narasi Ekstremis”. Workshop ini diselenggarakan pada tanggal 23-25 Agustus 2017 di Hotel Scarlet, Bandung.

 

Tujuan Workshop ini adalah untuk mendiskusikan secara mendalam konsep dan teori Narasi Ekstremis dan Kontra Narasi Ekstremis, Menggali pengalaman pesantren dalam melakukan Kontra Narasi Ekstremis, serta merumuskan materi Narasi Ekstremis dan Kontra Narasi Ekstremis.

Peserta workshop ini merupakan 30 ustadz/ustadzah yang secara aktif terlibat sebagai trainer di berbagai kegiatan Pesantren for Peace di 5 provinsi di Pulau Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jabodetabek).

Pendekatan yang digunakan dalam workshop ini yaitu dengan mengkombinasikan sesi penyampaian materi oleh narasumber yang kompeten di bidang Kontra Narasi Ekstremis  dan sesi diskusi kelompok.

Hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar dan Direktur CSRC, Irfan Abubakar yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Workshop. Serta beberapa Narasumber ahli yang menyampaikan materi di setiap sesinya, diantaranya Dr. Chaider S. Bamualim, MA (UKP-Pemantapan Ideologi Pancasila) yang menyampaikan materi “Konstruksi Narasi Ekstremis dan Counternya dalam perspektif Teoritis”; Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute) yang menyampaikan materi “Narasi Keislaman di Pesantren dalam Kapasitasnya Menangkal Ekstremisme”; Dr. Zaki Mubarak (FISIP UIN Jakarta) dan Irfan Abubakar, MA membahas tentang Analisis contoh Narasi Ekstremis dan Counternya; serta Irfan Amalee, MA (Gerakan Islam Cinta) dan Imam Malik (BNPT) yang membahas tentang Strategi menagkal Narasi Ekstremis. Sedangkan untuk Sesi Diskusi kelompok, hadir sebagai fasilitator diskusi Rita Pranawati, Junaidi Simun dan Muchtadlirin.

Demikian kegiatan Workshop ini diselenggarakan, harapannya dengan terselenggaranya workshop ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan Ustadz/ustadzah pesantren tentang konsep dan teori narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis, tergalinya pengalaman pesantren dalam melakukan kontra narasi ekstremis, serta tersedianya rumusan materi narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis.[LH]

 

 

 

 

Tim Paskibra Pondok Pesantren Al-Qur'an Babussalam Bandung.

Pengibaran Bendera Merah Putih di Pondok Pesantren Salafi Al-Fitrah, Jawa Timur.

Suasana Khidmat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Di Pondok Pesantren Salafi Al-Fitrah, Jawa Timur.

Santri Daruttauhid, Jawa Timur Gelar Upacara Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia Dengan Mengenakan Sarung.

Tak Kalah Menarik, Santri Kyai Gading Peringati Hari Kemerdekaan Dengan Sarung Warna Warni, Sesuai Semboyan Negara "Bhinneka Tunggal Ika".

 

 Santri Edi Mancoro Bentuk Formasi "RI 72" Usai pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan.

Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Bandung juga gelar Upacara HUT RI ke-72 dengan busana ala Santri.

Santri Darunnajah Annur 8 meriahkan HUT RI dengan berbagai perlombaan usai laksanakan Upacara kemerdekaan.

 

Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meluncurkan logo baru Hari Santri Nasional 2017  (10/8). Peringatan Hari Santri untuk yang ketiga kalinya ini menjadi momentum penegasan tiada tempat bagi ideologi khilafah dan radikalisme atas nama agama bagi santri Nusantara.

Ketua panitia Hari Santri (Hasan) 2017 Ahmad Athoillah mengatakan, santri Nusantara tidak anti Pancasila dan anti nasionalisme. Melalui Hasan 2017, para santri Nusantara diingatkan untuk tidak menyebar kebencian kepada negara dan wajib menjaga NKRI tanpa berselisih dengan kelompok etnis, suku, ras, dan pemeluk agama lain.

“Ini juga sekaligus menjadi penegasan bahwa radikalisme atas nama agama bukan mazhab dari santri Nusantara,” ujar Ahmad Athoillah.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj mengatakan untuk mengisi kemerdekaan sudah tidak waktunya lagi berdebat mengenai dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945. Pancasila, Aqil, sudah mutlak. Saat ini hal yang harus dilakukan adalah bagaimana memperkuat, mendalami, dan menyebarkan nilai-nilai Pancasila.

Secara terpisah, Direktur Pusat Studi Agama dan Kebudayaan (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Irfan Abubakar mengatakan, komunitas santri di Indonesia harus mampu menunjukkan komitmen keagamaan itu selaras dengan komitmen kebangsaan. Komitmen kebangsaan, menurut Irfan, bukan sekadar mencintai Tanah Air, konstitusi, antiradikalisme, dan setia tehadap Pancasila.

Hal yang tidak kalah penting bagi Irfan adalah dari sisi kemajemukan. Irfan berharap, komunitas santri bisa lebih kuat lagi membuktikan bahwa mereka adalah pengawal dari kemajemukan. Santri dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), kata Irfan, sangat menonjol dalam hal tersebut dengan ikon Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Yang lebih dalam lagi adalah komitmen terhadap nilai nilai Pancasila yang mencerminkan integritas pribadi seorang santri yang bersih. ketika berada di pemerintahan mereka menerapkan good governanceantikorupsi. Bukan sekadar mendapatkan peran yang lebih besar dalam konstelasi politik dan ekonomi. Sehingga yang lain merasa kehadiran santri merupakan bentuk berkah atau kemaslahatan,” tutur Irfan. (DD10)/Harian KOMPAS

 

Sumber: Harian Kompas Terbit Pada Jum'at, 11 Agustus 2017

dan http://baranews.co/blog/2017/08/11/hari-santri-nasional-santri-nusantara-teguhkan-komitmen-antiradikalisme/

Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, diaolog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Implementasi Program Pesantren for Peace (PFP) tersebut mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Pemerintah Indonesia. Kementrian Agama melaui Dirjen Pendidikan Islam dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mendukung gerakan penguatan peran pesantren dalam mempromosikan Hak Asasi Manusia (HAM), toleransi, demokrasi dan pembangunan perdamaian saat menerima kunjungan dan dialog dengan perwakilan 30 pimpinan pondok pesantren se-Jawa.

Dukungan kedua lembaga negara di atas sama dengan dukungan pemerintah daerah terhadap berbagai program PfP yang mereka hadiri. Disamping dukungan dari pemerintah di atas, PFP juga mendapatkan dukungan dari pesantren baik ustadz/ustadzah, kyai muda dan khususnya para santri yang terlibat dalam kegiatan 10 capacity training “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren dalam Perspektif HAM dan Islam” di 5 provinsi di Pulau Jawa. Menurut mereka, rata-rata lebih dari 90% memberikan penilaian bahwa training tercapai dengan baik. Training berhasil meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang perdamaian dalam Islam, meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM), dan santri memiliki keterampilan dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Dengan keberhasilan itu, melalui pesan-pesan yang disampaikan peserta training hampir semua merekomendasikan untuk melanjutkan training berdasarkan tema yang sama dengan target group pesantren yang berbeda dan belum pernah terlibat sebelumnya. Rekomendasi tersebut misalnya dari Ruslan dari PP. Azzakiyah Bogor “mudah-mudahan acara training seperti ini tidak hanya sampai di sini saja dan terus berlangsung agar menghasilkan duta-duta perdamaian untuk Indonesia dan dunia”.

Dhiya’atul Haq dari PP. Darul Ulum Surabaya “semoga masih banyak lagi orang-orang yang mendapatkan pencerahan melalui training ini untuk membuka pengetahun dan wawasan demi membangun perdamaian”. Nurizka Awalia dari PP. Daar el-Qolam Jakarta “program training tidak berakhir saat ini saja tapi bisa berlanjut di masa yang akan datang”. Zainal dari PP. Miftachus Sunnah Surabaya “alangkah baiknya program ini bisa dilanjutkan karena sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang egois, fanatik dan merasa benar sendiri”.

Harapan dilanjutkannya training bisa dilihat dari banyaknya manfaat yang diterima para santri dalam mengikuti training misalnya Siti Rodiah Jakarta menjadi Trainer Communication Skill Lintas Iman di Halmahera Maluku Utara, Lina Fatinah Bandung menjadi Duta Perdamaian Mojang Jajaka Cianjur, Najmuddin Semarang menjadi Fasilitator Perdamaian, Rizqi Fadlillah Ramadhan dan M. Rodhia Miftah Mempromosikan Perdamaian dan HAM melalui Radio dan Majelis Ta’lim, Muhammad Pandu Agung Yogyakarta mempromosikan Perlindungan terhadap Hak-hak Kelompok Minoritas (Waria), Puput Noer Fitri Hasanah Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam Membangun Yogyakarta Sebagai City of Tolerance dengan mengadakan seminar dan diskusi dan Ahmad Hamdani Jakarta mempromosikan perdamaian melalui tulisan opini atau artikel di Media cetak serta banyak manfaat dan dampak lainnya.

Penilaian peserta terhadap trainer, materi dan metode yang digunakan sangat beragam. Dari 6 materi besar training ada penilaian yang kurang baik dari peserta. Berdasarkan hasil penilaian peserta menunjukkan bahwa ada tiga materi yang dianggap kurang baik dan perlu kembangkan yaitu tentang materi mengenal HAM, memahami konflik dan Konflik secara Damai. Secara kuantitatif penilaian peserta terhadap Trainer Perdamaian dalam Islam di 5 provinsi sangat baik, semuanya di atas 90%. Berbeda dengan trainer materi mengenal HAM mayoritas penilaiannya baik tapi ada juga yang kurang baik misalnya di Surabaya hanya mendapatkan penilaian 63,3%. Penilaian ini memperlihatkan perlunya sesi pendalaman materi tentang HAM. Penilaian terhadap trainer materi HAM dalam Perspektif Islam sangat baik, semua trainer mendapatkan penilaian lebih dari 90%. Trainer prinsip HAM dan relasinya dengan Islam sangat baik lebih dari 90% tapi ada trainer khususnya di Jakarta yang mendapatkan penilaian kurang maksimal yaitu 80%. Trainer sesi materi memahami konflik di Jakarta dan Surabaya hanya mendapatkan penilaian 70%. Dan terakhir penilaian terhadap materi penanganan Konflik secara damai di Yogyakarta hanya 75,9%. Dua penilaian terakhir sama rendahnya dengan penilaian materi tentang sesi HAM sehingga penting 30 trainer dibekali kembali kemampuan dan keterampilannya tentang kedua materi tersebut.

Disamping itu, hasil pengamatan tim PfP di setiap training sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang ditanyakan peserta kepada trainer. Salah satu pertanyaan yang sering muncul misalnya tentang bagaimana mempromosikan perdamaian dan toleransi dengan melakukan counteri extremist narratives dan ujaran kebencian. Berdasarkan fenemona itu, para trainer perlu juga ditingkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilannya tentang konsep-konsep dasar dalam melakukan counter extremist narratives dan ujaran kebencian.

Berdasarkan latar belakang di atas Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) berkomitmen untuk melanjutkan program PFP dengan tema ”Pesantren for Peace: a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Civil-Human Rights and to Counter Extremist Narratives”. Program ini terdiri dari kegiatan TOT 30 Ustadz/Ustadzah dan Capacity Training serta Fild Trip di wilayah yang berbeda dari training sebelumnya di 5 Provinsi se-Pulau Jawa. Untuk memaksimalkan output, konten dan tehnis pelaksanaan kegiatan-kegiatan di atas maka penting diadakan brainstorming untuk mendiskusikan secara konseptual, tehnis dan strategi yang tepat dalam penyelenggaraan TOT dan Capacity training yang akan datang.

Saturday, 24 June 2017 22:01

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Keluarga Besar Pesantren for Peace Mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 

1 Syawal 1438 H

Mohon maaf Lahir dan Bathin

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menerima audiensi 35 orang perwakilan pondok pesantren yang tergabung dalam Aliansi Pesantren se-Jawa, Kamis, 8 Juni 2017 (Foto:Dok.MPR RI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menerima audiensi 35 orang perwakilan pondok pesantren yang tergabung dalam Aliansi Pesantren se-Jawa, di ruang kerja Ketua MPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Juni 2017.

Rombongan Aliansi Pesantren se-Jawa dipimpin Irfan Abubakar Direktur Centre for The Study Religion of Culture (CSRC), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan itu, Aliansi Pesantren se-Jawa membacakan deklarasi yang isinya antara lain, setia pada Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

 

 
Zulkifli Hasan mengapresiasi komitmen dan deklarasi Aliansi Pesantren se-Jawa. "Komitmen itu penting, tapi lebih penting, mari terapkan Empat Pilar itu dalam kehidupan kita sehari-hari," kata dia.

Mantan Menteri Kehutanan itu mengajak masyarakat membudayakan dialog, silaturahmi, dan bertemu duduk bersama, sebagai cara mempertemukan perbedaan.

"Bertemu dan dialog itu implementasi sila keempat Pancasila. Kalau ada perbedaan, ya dialog, musyawarah, dan bertemu, silaturahmi sesama saudara dan sebangsa. Bukan menang-menangan," kata Zulkifli.

Ketua Umum PAN itu menjelaskan bahwa Pancasila bermakna cinta kasih dan kasih sayang. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, saling menyakiti, mengejek, dan  memojokkan.

"Semua agama mengajarkan saling sayang dan menghormati, bukan saling menyakiti dan membeda-bedakan kelompok kita atau mereka," ucapnya.

Politikus asal Lampung itu berharap kepada para tamunya agar turut membantu meluruskan nilai-nilai Pancasila yang sempat bengkok oleh kepentingan dan pemikiran kelompok-kelompok tertentu.

"Bersama kita menjaga Pancasila. Jangan sampai Pancasila dimaknai dan diartikan sesuai kepentingan pribadi dan golongannya sendiri saja," ujar Zulkifli.


(ROS)
 
Berita ini dimuat di: http://m.metrotvnews.com/news/peristiwa/nbw1MJmK-ketua-mpr-apresiasi-komitmen-aliansi-pesantren-se-jawa-setia-pada-empat-pilar
Page 1 of 23