Pesantrenforpeace.com - [22/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kedua kalinya mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) masih dengan tema yang sama, yaitu "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". FGD kedua ini juga melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan, seperti halnya FGD pertama, FGD kedua ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

 



Diskusi ini membahas tentang respon pembaca terhadap narasi-narasi keagamaan yang tengah marak tersebar luas di berbagai media baik buku, media online dan media cetak.
Para peserta diminta menanggapi bahan bacaan narasi keagamaan yg disediakan panitia untuk kemudian didiskusikan bersama

Hadir dalam acara ini Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar dan para fasilitator diskusi: Idris Hemay, Afthon Lubbi Nuriz, dan Junaidi Simun.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com - [21/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) dengan tema "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". Acara yang melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

Meskipun tindakan terorisme telah diminimalisir dengan adanya Densus 88, banyak pengamat dan pejabat pemerintah yang masih percaya bahwa penyebaran ideologi ekstemisme dan kekerasan masih begitu kuat, dan bisa menjadi akar tindakan terorisme di masa yang akan datang. Riset menunjukan sejumlah pemuda Muslim tertarik dengan apa yang disebut dengan pergerakan dan ideologi jihadis transnasional. Dengan adanya penyebaran yang masif dari radikalisme ini, dan juga penerimaan dari beberapa pemuda Muslim terhadapnya, pengamat menilai bahwa kelompok ekstemis baik individu maupun secara kelompok telah menyebarkan ajaran radikal mereka melalui media online dan offline.

Berdasarkan hasil penelitian CSRC UIN Jakarta (2017) menunjukkan konstruksi narasi Islamesme yang berkembang di masyarakat mengambil bentuk yang beragam. Kontruksi narasi Islamisme yang nantinya melahirkan bentuk ekstrimisme baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan dibangun melalui kesadaran kognitif dengan cara membangun pemahaman. Bentuk pemahaman tersebut adalah doktrin-doktrin teologis yang berkaitan dengan perbedaan keimanan, keyakinan, dan juga aliran-aliran dalam pemahaman keagamaan. Pemahaman yang sudah terbangun akan menjadi pijakan, sumber nilai dan legitimasi dalam bersikap, bertindak terhadap mereka yang berbeda (the others) pada tataran sosial praxis yang arah hilirnya pada sebuah tindakan.

Dari hasil pengamatan, observasi dan juga penelitian yang telah dilakulan, variasi dari respon yang muncul terhadap mereka yang berbeda terbangun atas dasar sikap oposisi berdasarkan perbedaan posisi dan pemahaman informan dari mereka yang berbeda (the other). Sentimen atas dinamika sosial politik agama dan ekonomi turut membentuk narasi militan terhadap sang lian tersebut. Pelabelan terhadap lian seperti musuh dan kafir adalah manifestasi dari pola pikir yang intoleran terhadap mereka yang berbeda. Ini dapat dianggap sebagai framing terhadap mereka yang dianggap berbeda dengan si subjek. Sasaran yang menjadi objek kebencian dari kelompok-kelompok Islmisme ini, berdasarkan pada hasil penelitian di atas, adalah kelompok-kelompok yang berbeda dari segi pemahaman keagamaan adalah seperti Syiah, Islam liberal dan Ahmadiyah. Adapun kelompok yang menjadi sasaran kebencian dari segi perbedaan agama adalah Nasrani dan Yahudi.

Naureen Chowdhurry dan Jack Barely, (CGCC, 2013) menilai bahwa alasan dibalik suksesnya organisasi ekstremis bisa menarik pemuda Muslim ialah karena mereka dengan lihainya menggunakan simbol-simbol dan refrensi Islami, yang sebenarnya juga disebarkan oleh kalangan Islam secara umum, namun mereka interpretasi secara salah. Dalam melakukan hal tersebut, dan ini menjadi faktor kunci kesuksesannya, mereka menggunakan keluhan-keluhan yang biasa umat Islam lihat (secara realistis maupun imaginatif) di masa sekarang, sehingga kelompok yang ditargetkan bisa dengan cepat yakin masuk ke kelompok ekstremis tersebut. Banyak pemuda Muslim, yang memiliki pemahaman sempit tentang Islam dan yang lemah pemikiran kritisnya, telah dengan gampang terpengaruh dengan kampanye ini. Dalam aspek ideologi konten ini, mereka secara besar-besaran menggunakan literatur dan bentuk retorika dalam menyampaikan dan mengkampanyekan pandangan radikal mereka. Metode komunikasi ini telah secara efektif digunakan untuk menjangkau emosi pemuda Muslim untuk mengukuti pemahaman mereka.

Hasil penelitian CSRC menyebutkan ada tiga pola penyeberan narasi ekstremisme. Pertama adalah media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, bulletin, majalah, selebaran, dan blog. Pola penyebaran kedua adalah hubungan interpersonal yang dapat berupa hubungan keluarga, guru dan teman/sahabat. Pola penyebaran ketiga yaitu ruang atau setting sosial yang meliputi kegiatan pengajian dan khalaqah. Narasi Islamisme yang ditransmisikan melalui ruang ini cenderung lebih leluasa karena sifatnya yang eksklusif dan privat.

Dengan pola penyebaran yang sangat masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstrimisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Nah, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan meso-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk menjegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstimis.

Diharapkan, pendekatan ini bisa memperkuat peran keluarga dalam menjaga individu yang rawan terhadap kekerasan ini, dan dalam tatanan makro, diharapakan pendekatan ini akan memberi sumbangsih bagi pemerintah dalam menanggulangi penyebab struktural dari kekerasan ekstremisme, yang melibatkan konflik politik yang tak berkesudahan, pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi agama dan marginalisasi ekonomi sosial. Agar pelaku kemasyarakatan bisa menyediakan upaya penanggulangan terorisme yang kredibel, maka mereka harus terlepas dari kepentingan politik manapun.

Oleh karena itu, pelaku kemasyarakatan bersedia untuk berpartisipasi dalam pencegahan ektrimisme dengan menngunakan pendekatan CVE ini, yang tentunya dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan yang relevan dalam menganalisa konten dan metode penyampaian pesan/narasi dari ektremisme itu sendiri. Ini akan secara efektif membantu mereka menyeimbangkan narasi ekstremisme dan bahkan bisa mendelegitimasi ideologi dan pemahaman keagamaan mereka.

Guru di Pondok Pesantren merupakan salah satu dari kalangan umat Islam yang dapat diandalkan untuk secara aktif berperan dalam membawa agenda ini. Ini tidak hanya karena mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang ajaran dan argumentasi keislaman, tetapi mereka juga memiliki kapasitas untuk mengkomunikasi ini kepada masyarakat. Secara kelembagaan, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyatu dan mengakar di masyarakat. Di Indonesia terdapat 3.65 juta santri yang tersebar di 25000 pondok pesantren.

Pondok pesantren pendidikan dan melatih peserta didik atau para santri dengan ajaran- ajaran yang inklusif. Para santri yang terdapat di Pondok Pesantren datang dari latar belakang yang berbeda-beda dan juga dari kultur, budaya, dan bahasa yang berbeda pula. Perbedaan tersebut disatukan di satu lembaga bernama Pondok Pesantren. Dengan adanya perbedaan dan juga pengajaran yang mengandung nilai-nilai inklusif, toleran, terbuka dan saling menghargai dapat menjadi model dan modal dalam penyebaran pesan damai dan hidup harmoni di tengah-tengah masyarakat majemuk seperti di Indonesia. Dipilihnya guru di Pondok Pesantren sebagai agen penyampai perdamaian dengan menggunakan metode Counter Violent Extremism (CVE) selain karena sudah memiliki tingkat pemahaman yang cukup memadai terkait dengan nilai-nilai Islam yang damai dan rahmatan lil’alain, mereka juga sehari-hari dalam hubungan murid dan guru memiliki hubungan dan berkomunikasi secara langsung dan intens. Dengan komunikasi langsung dan secara kontinu, maka akan sangat mudah untuk menanamkan nilai-nilai Islam damai, sehingga menjadi satu gerakan masif dan dapat menghalau gerakan ekstrimisme itu sendiri.

Hal yang perlu dilakukan dengan Counter Violent Extremism (CVE) bagi para guru di Pondok Pesantren adalah meningkatkan kemampuan mereka, terutama dalam menganalisa konten-konten narasi ekstremis, sebagai bagian dari metode mereka mengkomunikasikan ini kepada masyarakat terutama melalui media online. Alasan kegiatan ini fokus pada media online karena, berdasarkan pada hasil penelitian di atas dan data yang dihimpun oleh BNPT bahwa pembentukan pemikiran radikal seseorang hingga menghasilkan aksi terorisme dipengaruhi oleh media online (internet). Bahkan, penggunaan media online dalam penyebaran rasa kebencian yang kemudian menjadi penyebab lahirnya ekstremisme dan radikalisme tidak hanya dalam ruang lingkup nasional, tetapi juga jaringan trans-nasional.

Berangkat dari alasan inilah, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) sejak juni 2017 mengembangkan program Penguatan Peran Pesantren dalam Promisi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis. Program ini telah menyelenggarakan empat kegiatan penting yaitu Brainstorming, Workshop, Concultation Meeting, Preliminary Workshop dan Try Out. Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, CSRC dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas institusi Pondok Pesantren di Indonesia dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilam guru dan murid di Pondok Peantren dalam melakukan analisis konten narasi ektremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan guru dan murid di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi kekerasan ektremis bagi umat Islam. Merujuk pada proposal yang diajukan CSRC dan telah disepakati KAS ada empat (4) kegiatan utama. Pada bulan Februari-Mei 2018 ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Penelitian kualitatif tentang narasi ektremis dan kontra narasinya di online maupun offline dan Penulisan dan publikasi modul.

MAKSUD DAN TUJUAN

Program ini bertujuan untuk melakukan Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”.

Program ini juga akan melakukan Penulisan dan publikasi modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

TARGET CAPAIAN

Terlaksananya Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”. Serta tersedinya modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

Penelitian Kualitatif terhadap terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk berbeda dari pesan dan narasi ektremis dan kekerasan yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini akan fokus pada menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga akan mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Analisis naratif terhadap teks-teks baik tertulis maupun secara audio/visual akan digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data dan proses analisa. Satu peneliti utama dan dua peneliti senior akan dikerahkan untuk melakukan riset ini, yang rencananya akan dilakukan dalam waktu dua bulan, yaitu antara Februari-Maret 2018.

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan riset ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Instrumen penelitian

Mendiskusikan secara mendalam desain dan instrumen penelitian

1.   Pedoman Pelaksanaan In- depth interview, Readers response dan Pengamatan narasi dan konra narasi ektremis di media online dan off line

2.   Pedoman Analisis Data dan Penulisan Hasil Riset

Workshop ini akan melibatkan 10       orang yang   terdiri dari         tim manajemen riset       dan peneliti

2.

Pengumpul an Data literatur di

media online dan off line

1. Identifikasi contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk narasi ektremis dengan fokus pada analisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

1. Tersedianya contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Tersedianya analisis bentuk-bentuk narasi ektremis dengan fokus pada menganalisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

Tim peneliti ada 3 orang yang terdiri dari 1 peneliti utama dan 2 peneliti senior

3.

Pengumpul an data dengan wawancara mendalam

Mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam melakukan kontra narasi ekstremis

Tersedianya informasi yang akurat tentang narasi ektremis yang berpengaruh baik karakteristik tokoh, konten, bahasa, fakta dan alat-alat komunikasinya.

Akan mewawancar a 10 orang yang terdiri dari orang yang terpengaruh dan orang yang tidak terpengaruh dengan narasi ekstremis serta akademisi ekstremisme

4.

Pengumpul an data dengan Readers response

Mengidentifikasi retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

Tersedianya data dan analisis tentang retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

30 santri pondok pesantren di Jakarta

5.

Analisis Data dan Penulisan Laporan

Melakukan analisis data untuk melihat keseluruhan data dan mengidentifikasi isu dan ide pokok untuk menafsirkan data atau informasi yang diperoleh melalui literatur review, in- Depth Interview dan readers response dengan mengacu kepada tujuan, kerangka konseptual penelitian

Tersedianya laporan hasil penelitian sesuai dengan tujuan dan kerangka konseptual penelitian

Penulisan laporan mengacu pada format penulisan laporan

  

Penulisan dan publikasi manual dari “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”

Kegiatan ini diajukan dengan tujuan men-draft sebuah manual yang didasarkan pada penelitian untuk guru dan murid Pondok Pesanten terkait bagaimana agar bisa secara efektif menyuarakan pesan-pesan dan wacana-wacana perdamaian dan penanggulangan terhadap narasi ekstremis. Untuk menciptakan efek multiplier dari manual ini bagi banyak group Muslim dan komunitas di Indonesia, penting agar ini dicetak dalam jumlah banyak dan didistribusikan kepada stakeholders yang akan mendapat benifit dari manual tersebut dengan tujuan yang sama. Manual ini akan dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Dan kegiatan ini akan dilaksanakan dalam dua bulan, April-Mei 2018.

 

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan penulisan ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Modul

Mendiskusikan secara mendalam desain matriks modul yang tepat bagi kalangan Pesantren berdasarkan hasil penelitian dan program sebelumnya ditahun

2017

Tersedianya Matriks dan format penulisan Modul

Workshop ini akan melibatkan 10      orang yang   terdiri dari        tim manajemen dan penulis

2.

Penulisan Modul

Melakukan penulisan modul berdasarkan matriks dan format penulisan yang telah ditentukan

Tersedinya naskah modul

Penulis modul sebanyak 15 orang   yang terdiri dari 5 orang penulis utama dan 10       orang ustadz/ustad zah

3.

Editing

Melakukan editing naskah modul yang sudah ditulis oleh para penulis modul

Tersedianya naskah modul yang siap dilayout

Editing modul akan dilakukan oleh 2 orang

4.

Layout

Melakukan layout modul

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Lay out modul akan dilakukan oleh 1 orang

5.

Proof reader

Melakukan Proof reader naskah sebelum naik cetak

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Proof reader akan dilakukan oleh 2 orang

6.

Cetak Modul

Modul akan dicetak sebanyak 1.000

eksemplar

Tercetaknya 1.000 eksemplar modul

 

Menjaga Indonesia Sebagai Darus Salamah

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Kaum Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, yakni menjalankan segala perintah Allah  dan menjauhi laranganNya.

Kita bersama  sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati madzhab, agama atau pandangan politik kita berbeda. Kita adalah berketuhanan Yang Maha Esa. Kita satu bangsa, satu tanah air, dan kita semua telah sepakat berbhineka tunggal ika . Islam tidak melarang kita berbeda. Yang dilarangNya adalah berselisih dalam perbedaan yang merujuk pada kekerasan.

“Janganlah menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih.” Demikian Allah menjelaskan dalam QS Al Imran ayat 105.

 Harus kia sadari, akhir-akhir ini marak sekali, orang-orang yang mengkampanyekan sistem khilafah. Dengan dalih kembali ke al Quran dan As Sunah serta menjalankan syariat secara kaffah.

Kita harus sadar bahwa keragamaan dan perbedan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untu seluruh makhluk termasuk manusia. Kita harus belajar kepada Rasulullah bagaimana beliau memimpin negara madinah. madinah itu artinya negara yang masyarakatnya modern, sejahtera, berbudaya, bermartabat. Ini madinah. itulah alasan kenapa Nabi Muhammad membangun sebuah kota dan menyebutkan dengan nama Negara Madinah. “Bukan negara Islam, bukan negara Arab, bukan negara agama.

Indonesia ini adalah Darussalam, negeri yang damai dan sentosa. Masih ingat langkah para ulama pada Muktamar NU di Banjarmasin pada tahun 1936, yang menghasilkan keputusan penting, yakni mereka menempatkan negara Indonesia sebagai Darussalam, bukan Darul Islam. Dikatakan sangat penting karena hingga saat ini konstruksi tersebut sangat relevan dan konsisten dengan berdirinya NKRI dibawah payung Pancasila dan UUD 45.

Sejarah  bahwa rasulullah SAW, telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mencintai tanah air sebagai wujud iman kepada Allah, bisa dilihat pada tahun 622, dimana nabi Muhammad bersama warga Madinah membuat sebuah kesepakatan bersama yang dikenal dengan Piagam Madinah. Sebuah undang bernegara, berbangsa dan beragama yang berdasar kesepakatan bersama. Piagam ini merupakan kesepakatan hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh pemeluk agama di Madinah. 

Ini bagian dari bentuk cinta dan hormat kepada negara.

حب الوطن من الايمان

Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Saudara-saudara seiman

Salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita adalah memberikan kita sebuah negara yang besar, negara yang kaya akan sumber daya alam, suku, bahasa, budaya dan lain sebagainya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Perlu diketahui, hari ini di Timur tengah, yang mayoritas penduduknya muslim sedang terjadi kekacauan, peperangan, teror-teror dan kekacauan politk yang tiada henti. Kabar terbaru, telah terjadi pengeboman di daerah Sinai, Mesir. Tepatnya di Masjid Raudhah dimana kau muslimin sedang melaksanaan sholat jumat. Belum lagi  kekacauan di  Suriah, irak, dan negara-negara islam lainnya.. Apakah  kita menginginkan indonesia seperti itu.

Semua itu sumbernya adalah pudarnya rasa nasionalisme. Menjaga rasa nasionalisme, menjaga negara secara tidak langsung kita telah menjaga kenyamanan peribadatan kita kepada Allah. Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang menganjurkan kita untuk mencintai tanah air atau negeri kita. Nabi Ibrahim disebutkan dalam  Al Qur'an berdoa kepada Allah untuk memberkahi negeri yang didiaminya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa.." [Al Baqarah 126]

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." [Ibrahim 35]

Tapi harus kita sadari. Keberagaman dengan saling menghargai antar sesama warga negara Indonesia akhir-akhir ini nampak sedikit pudar. Banyak ujaran kebencian, berita bohong, fitnah, dan hal-hal yang meruntuhkan negeri ini. Kita harus mengedepankan nilai-nilai pluralisme, toleransi dan keberagaman.sudah jelas Allah sendiri yang telah menjadikan perbedaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

 

 

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai umat Islam yang dan warga yang baik. Kita ikuti aturan pemerintah sebagai bagian dari menjalakankan perintah Allah. Tidak bisa dipungkiri bahwa negara kita telah memiliki pemerintahan yang sah yang telah disepakati oleh para pendiri-pendiri terdahulu. Sebagai warga negara yang beriman kita harus mentaati pemerintahan yang shah, seperti halnya firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ : 59)

Sebagai warga negara yang taat dan beriman maka wajib hukumnya kita patuh kepada pemimpin-pemimpin adil dan yang sah. Jika kita membangkang kepada negara dan pemerintah, berarti kita tidak mengindahkan firman Allah tersebut.

Saudar-saudara yang dimuliakan Allah.

Di akhir khutbah ini, marilah kita perkuat rasa cinta kita kepada bangsa ini, kita adalah negara salamah. Negara yang damai yang harus kita jaga.mari kita bersama-sama senantiasa meminta ampun kepada Allah dan selalu berdoa agar negara kita damai, tentram dan sejahtera.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

 

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

Nilai-nilai Hijrah Nabi di Madinah

ألحَمْدُ لِلّهِ. ألحَمْدُ لِلّهِ الذِي جَزَى العَامِلِيْنَ. وأحَبَّ الطَّائِعِيْنَ. وَأبْغَضَ العَاصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاَ اِلهَ اِلااللهُ. وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ  فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنِّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ لَ اللَّهُ تَعَالَى :أَعُوْذُبِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَاباً مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

 

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

Di hari jum’at yang penuh barokah ini, marilah kita memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua. Memalui mimbar khutbah ini, saya menyampaikan kepada para jama’ah sekalian marilah kita bersama-sama senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sebagai upaya meningkatkan iman dan taqwa kepadanya, mari kita coba menengok kembali sejarah masa silam. Masa perjuangan Nabi SAW dan para sahabat-sahabat beliau dalam menegakkan agama Allah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah, bahwa Nabi SAW dan para sahabat mengembangkan islam di Mekah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang quraisy menentang, mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat dengan tujuan agar Nabi SAW menghentikan dakwahnya.

Makin hari kekejaman itu semakin menjadi dan kemudian mencapai puncaknya, mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi SAW. Dalam keadaan genting itulah Rasulullah mendapat perintah hijrah kemadinah. Maka berhijrahlah beliau bersama para sahabat menuju kota yastrib, yang sekarang menjadi kota Madinah.

Peristiwa hijrah ini menjadi tonggak perjuangan umat islam untuk selanjutnya membangun masyarakat madinah yang lebih beradab, mempersatukan orang pribumi dan pendatang saling tolong menolong, gotong royong dalam membangun madinah. Peristiwa hijrah akan tetap relevan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun yang akan datang, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap kontekstual dijadikan rujukan kehidupan.

Apakah kita siap untuk hijrah? Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100]

Hijrah kaum muhajirin dan Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah adalah semata-mata karena perintah Allah.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖوَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An Nisaa’ (4): 97]

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. Mereka dipaksa oleh orang-orang Quraisy ikut bersama mereka pergi ke perang Badar untuk membantu pasukan Quraisy; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

Secara umum, kaum muslimin di Madinah berkuasa penuh sejak awal kedatangan mereka di sana tanpa ada seorang pun yang menguasai mereka. Oleh karena itu, mereka harus menghadapi tantangan hidup yang baru, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, hukum, hingga masalah pemerintahan. Begitu pula penerapan ajaran Islam berupa halal dan haram, serta seluruh perintah dan larangan agama dalam segala aspek kehidupan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai membangun kota Madinah dengan melakukan tiga hal pokok yaitu: membangun masjid, mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai.

Peristiwa hijrah merupakan peristiwa penting yang di dalamnya tersimpan banyak hikmah yang bisa kita petik. Setidaknya, ada 3 nilai penting dari peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah yang perlu kita teladani dan transformasikan dalam kehidupan saat ini.

Pertama, transformasi keummatan (kemanusiaan). Mengingat, misi utama hijrahnya Nabi beserta kaum muslim sesungguhnya adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena betapa sebelum hijrah, penindasan dan kekejaman sangat sering dilakukan oleh orang-orang kaya dan para penguasa terhadap masyarakat kecil yang lemah. Oleh karenanya, hijrah dalam hal ini ditujukan untuk mewujudkan suatu tatanan sosial (kemasyarakatan) yang lebih baik.

Kemudian yang Kedua, adalah transformasi kebudayaan atau peradaban. Hijrah dalam hal ini dimaksudkan untuk mengentaskan masyarakat dari kebudayaan atau tabiat Jahiliyah menuju kebudayaan dan peradaban yang Islami

Lalu yang Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah yang sesunguhnya dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan kaum Muslim dengan kalangan non-Muslim (Ahli Kitab: Yahudi dan Nasrani) yang ada

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

            Banyak masalah-masalah yang dihadapi Indonesia di era ini, seperti konflik, pertikaian, apalagi yang berhubungan dengan agama. Beranjak dari permasalahan-permasalahan yang saat ini di hadapi Negara Indonesia, Apakah Indonesia harus berhijrah dangan merubah bentuk Kontitusi Negaranya? Akankah kita mengubah pancasila? Indonesia ini adalah hasil perjuangan dari masyarakat yang berbeda corak, eberdaulat. Dalam soal beragama, Sukarno muda menekankan perlunya masyarakat diberikan keleluasaan dalam beribadah saling menghormati satu dengan yang lain, bagaimana caranya ? yaitu dengan mengamalkan ajaran agama dengan cara berkeadaban.

            Cobaan atas toleransi keberagaman itu terus datang bertubi-tubi di era media sosial, provokasi intoleransi marak di media sosial dan rentan mengganggu sendi-sendi kerukunan masyarakat. Fenomena intoleransi dimedia sosial tak bisa dianggap remeh. Mengapa demikian ? karena informasi dimedia sosial erpotensi besar mempengaruhi opini publik, hal inilah yang mengganggu kebhinekaan. Fenomena dikota manapun ada Masjid Raya dan sebelahnya adalah Gereja, apakah ini dapat ditemukan di negara lain ? hari jum’at kita sholat jum’at di masjid, kemudian hari Munggu mereka beribada di Gereja. Saat libur Idul fitri, orang non muslim juga mudik ke kampung halaman, saat hari raya natal, imlek, nyepi, dan waisak juga kita diberikan libur untuk istirahat dalam suatu pekerjaan kita setiap hari. Kita hidup bertetangga, dengan orang non muslim malam hari melakukan ronda bersama dan pada hari minggu pagi kegiatan riutin yaitu kerja bakti kita lakukan bersama. Bukankah sungguh indah persatuan kita, sehingga kita tetap hidup damai, saling menghormati, menghargai, dan bergotong-royong ?

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa arti hijrah adalah perbaikan. Perbaikan yang diinginkan pasti yang bermanfaat untuk kehidupan disekitarnya. negara kita sudah cocok atau tepat dengan ideologi dan nilai-nilai pancasila. Indonesia yang berlandaskan bineka Tunggal ika yang bermakna indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang beranekaragam namun keseluruhannya merupakan persatuan, zaman dahulu setelah Nabi Muhammad hijrah lalu Nabi menyatukan masyrakat yang berbeda-beda agamanya.

            Keadilan sudah ditetapkan dalam Undang-Undang negara kita tanpa pandang bulu (pilih kasih), dan keputusan-keputusan hakim harus mengandung rasa keadilan, agar dipatuhi masyrakat. Warga masyrakatpun harus ditingkatkan kecintaanya terhadap hukum sekaligus mematuhi hukum tersebut. Setiap orang harus berlaku adil dalam memberikan kesaksian. Itu adalah bagian dari tanggung jawab sosial.

Ketika masyrakat timur tengah tidak bisa menerima seseorang yang berbeda madhzab dari mereka apalagi seseorang yang berbeda agama dengan dirinya, apalagi dilingkungan mereka. Maka dari itu mereka saling berperang. Coba, kita lihat di negara kita ini. Betapa indahnya perdamaian di negara Indonesia ini. Bahkan kita bisa bertetangga dengan seseorang yang agamanya non islam atau agamanya berbeda dengan kita, bertetangga secara baik tanpa ada permusuhan.

            Hadirin yang dirahmati Allah itulah nilai-nilai yang harus kita pertahankan dengan kuat, jangan sampai negara kita yang sudah jelas dasarnya ini dimasuki atau di obrak-abrik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang ekstrem yang membuat kekacauan di negara Indonesia ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم

Friday, 09 February 2018 10:30

Contoh Teks Khutbah : Islam Agama Cinta Dan Kedamaian

Written by

KHUTBAH JUMAT

Islam Agama Cinta Dan Kedamaian

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الهُدًى بِإِحْسَانٍ

أَمَّا بّعْدُ : فَقَالَ اللهُ تعالى في القرآن الكريم :“ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

 “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kitakepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

 

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah swt

Salah satu karakter menonjol syariat Islam, adalah agama kita datang dengan membawa dan menjunjung tinggi kasih sayang. Begitu banyak nas dari al-Qur’an maupun Sunnah yang menjelaskan hal itu. Di antaranya:

 

“وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ“

Artinya: “Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam”. QS. Al-Anbiya’: 107.

 

 

Jama’ah Jum’at yang kami hormati

Dalam mengajarkan kasih sayang, Islam tidak cukup hanya dengan memaparkan konsep global, namun juga menjabarkannya secara terperinci. Menyebutkan potret-potretnya secara detail dan menggambarkan dengan begitu jelas praktek nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari orang terdekat, yakni anak dan istri, hingga manusia terjauh baik dari sisi kekerabatan maupun beda agama, semuanya berhak mendapat kasih sayang sesuai dengan porsi dan aturan yang telah digariskan agama. Tidak cukup hanya para manusia yang perlu disayangi, makhluk lain, semisal binatang dan tumbuh-tumbuhan pun berhak mendapatkan jatah kasih sayang.

Mengenai kasih sayang terhadap beda agama Rasulullah sudah menggambarkan dalam sirah sejarahnya, ketika rasulullah mengalami penindasan, intimidasi dan ancaman yang luar biasa dari kaum Quraisy tetapi sikap rasulullah tetap menjaga perdamaian dan tidak menanam kebencian, dengan begitu terlihat di masa selanjutnya banyak kaum Quraisy yang masuk Islam dikarenakan merasakan sikapnya rasul yang cinta sesama. Dia membalas keburukan dengan kasih sayang, maka ada istillah “rubahlah sang pencundang itu dengan rasa kasih sayangmu agar orang yang benci kepadamu akan menaruh cinta juga kepadamu”. Sekiranya kau lembut kepadanya dia akan luluh kepadamu, tapi sekiranya kau keras kepadanya maka ia akan benci kepadamu.

Terlihat jelas bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah walaupun itu sudah di luar batas, tetapi Rasulullah tidak menghadapi permusuhan dengan permusuhan, sekiranya rasul di awal dengan jalan kekerasan mungkin juga tidak ada yang mau mengikuti ajaran Rasulullah, akan tetapi sejarah indah menjawab dengan tegas, bahwa dengan rasa cinta dan penuh kasih sayang Islam bisa menggugah hati mereka baik yang kafir maupun yang benci dengan Islam.

“الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ”

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di atas muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit”. HR. Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr dan dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.

Begitulah rasulullah menunjukan pribadi yang mulia, beliau tidak semena-mena menghukum dengan seksama, tapi penuh pertimbangan dan bijaksana, apalagi menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Padahal Islam adalah agama yang lembut sangat menjunjung tinggi perdamaian dan tanpa kekerasan yang brutal.

Sebagaimana dengan adanya hal kekerasan dan tindak kejahatan baik terhadap hak manusia maupun agama, tidak demikian adanya ketika Islam menyerang kekerasan dan angkat tangan, sejak dahulu rasulullah sudah mengajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang dan anti dengan kekerasan.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah

Untuk memotivasi sifat saling menyayangi sesama muslim, selain dengan menjelaskan hak dan kewajiban di antara mereka, Bahkan Islam juga menerangkan jalan yang seharusnya ditempuh untuk mengantarkan kepada terciptanya kasih sayang tersebut.

Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam juga membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin berkasih sayang di antara mereka,

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan tentang sesuatu yang jika kalian praktekkan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Maka tebarkan salam niscaya kalian akan saling mencintai dan bersikaplah lemah lembut baik dengan temanmu maupun musuhmu sehingga ia akan tergugah dan mau masuk islam atas jasamu itu.

Para hadirin yang kami cintai

Dalam menebarkan kasih sayang, Islam tidak hanya berhenti dalam wilayah sesama muslim saja, namun juga merambah hubungan dengan non muslim. Di antara potretnya yang paling jelas, Islam memotivasi mereka untuk masuk dan mengikuti agama kasih sayang; agama Islam, agar mereka bahagia di dunia dan selamat di akhirat.

Artinya: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Yang lebih menakjubkan lagi, agama kita tidak hanya memperhatikan kasih sayang sesama manusia, namun juga mengajarkan kasih sayang kepada penghuni bumi lainnya, yaitu binatang dan tetumbuhan.

Tidak cukup hanya mengajarkan kasih sayang semasa hidup, bahkan Islam juga memerintahkan agar mempraktekkan kasih sayang, sampaipun di detik-detik akhir hidup para hewan tersebut, yakni manakala kita bermaksud untuk menyembelihnya.

Masih banyak potret lain yang menggambarkan betapa ajaran Islam sangatlah menjunjung kasih sayang. Kasih sayang kepada pelaku kesalahan terutama dari kalangan orang-orang yang terbatas ilmunya. Kasih sayang kepada non-Islam, Kasih sayang kepada orang tua dan kerabat. Kasih sayang kepada tetangga. Dan segudang contoh lainnya, yang tidak mungkin dipaparkan dalam kesempatan singkat ini. Semoga sedikit pemaparan di atas bisa menggambarkan pada kita betapa Islam benar-benar agama yang  mengutamakan kasih sayang dan memotivasi umatnya untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu, tetapi kutegaskan kepadamu yakni kasihilah musuhmu dengan demikian kita telah mengikuti tuhan yg menerbitkan matahari dan hujan bagi setiap orang baik maupun buruk yang ada. Apabila kita mengasihi orang yang mengasihi kita, kemudian kelebihan kita apa..!! bukankah pemungut cukai juga demikian. Jadi kalau kita hanya sayang orang yang sayang kepada kita gak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal tuhan.

Kau orang yang beragama tunjukanlah bahwa kau mencintai saudaramu maupun musuhmu, seperti halnya rasulullah mencintai kaum quraysi sebab mengharap rahmat Allah agar mereka sadar dan mau menerima ajakan rasulullah swt dan memeluk agama Islam dengan cara kasih sayang.

فقال الله تعالى : وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُون

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللهم اعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين

اللهم انصر المجاهدين فى فلسطين اللهم انصر المجاهدين فى كل مكان

اللهم انصر المتظاهرين في جاكرتا, اللهم بارك لهم في عملهم وأهن من طعن بدينك وأعوانه

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِين.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Friday, 16 February 2018 10:25

Contoh Teks Khutbah : MEMAAFKAN ADALAH AKHLAK ISLAMI

Written by

MEMAAFKAN ADALAH AKHLAK ISLAMI

KHUTBAH 1

الحَمْدُ للهِ الّذِي لَهُ مَا فِي السمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَلَهُ الحَمْدُ فِي الآخرَة الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وهو الرّحِيم الغَفُوْر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

Sidang jumat rohimakumulloh

Kita sudah sepatutnya memanjatkan syukur dengan tidak henti-hentinya kehadirat Alloh SWT atas nikmat berupa negara Indonesia yang telah merdeka, aman, makmur, gemah ripah, loh jinawi.  Masyarakatnya terkenal dengan masyarakat yang ramah yang melestarikan budaya sapa, salam dan senyum. Meskipun memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemerdekaan negara kita belum diraih secara tuntas dalam segala bidang. Di bidang Ekonomi misalnya, kita masih dijajah oleh China, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Namun justru inilah tugas kita sebagai warga negara yang baik untuk tidak hanya mengeluhkan keadaan tetapi juga harus turut serta memperbaiki kondisi negara kita ke arah yang lebih baik. Hal ini merupakan ekspresi cinta tanah air.

Kita juga seharusnya bersyukur bahwa dasar negara kita senafas dengan substansi ajaran islam. Negara dan agama tidak boleh di sekat-sekat / dipisah-pisah. Keduanya merupakan saudara kembar yang harus saling menopang. Negara membutuhkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam agama, sedangkan agama memerlukan rumah yg mampu merawat keberlangsungannya secara aman dan damai.

Sidang jum'at rohimakumullah

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita tentang penistaan agama, atau lebih khusunya penistaan alqur'an yang dilakukan oleh seseorang, yang notabenenya dia itu sebagai pemerintah non-muslim di negara kita, atas perbuatannya itu tidak sedikit sebagian masyarakat muslim kita yang ramai-ramai mengecam, bahkan marah, sehingga reaksi dari kemarahan yang ditunjukan oleh sebagian saudara kita itu di exspresikan dengan turun kejalan, melakukan demonstrasi menuntut agar dia yang menistakan agama di hukum seberat-beratnya, hingga kondisi negara menjadi kurang kondusif. Point yang perlu dicatat bagi kita sebagai seorang muslim dari kasus tersebut adalah jangan sampai hujatan kita terhadap penista agama malah menjadi boomerang bagi diri kita sendiri. Mari berintropeksi, tatkala kemarahan kita meluap karena Al-qur’an di hina, justru malah kita sendiri yang jadi penista. Sudahkah kita menjadi pengamal Al-qur’an? Atau seberapa jauh kita memahami kandungan Al-qur’an mengapa kita marah tatkala Al-qur’an dihina, sementara kita tidak pernah menyempatkan waktu untuk membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Al-qur’an itu sendiri, jangan-jangan kita sendiri yang menistakan Al-qur’an, disebabkan kurangnya perhatian kita terhadapnya, dengan tidak membacanya, mempelajarinya,serta mengamalkan isi dari Al-qur’an.

Sidang jum’at yang dimuliakan Alloh SWT

Isu keagamaan di Indonesia merupakan isu sensitif terhadap perpecahan negara. Menilai kafir atas warga negara yang lain tanpa ada dasar yang jelas tidak di benarkan dalam Islam. Dari Imam An Nawawi dalam kitab Al-Kirmani Syarah Shohih Al-Bukhori (Jilid 3 juz 5 halaman 153, cetakan Al Azhar, Mesir) meriwayatkan Imam Ghozali berkata bahwa tidak boleh melaknat diri pribadi orang-orang kafir, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal kecuali kita yakin dengan disertai nash-nash syara’ bahwa orang tersebut matinya dalam keadaan kafir seperti Abu Lahab. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita harus mencerna baik-baik informasi yang kita dapat secara detail dan objektif, tidak serta merta menuduh orang lain sebagai aimmatul kufri (gembong kekafiran) sehingga kita tidak mudah emosi atau marah.

Rasulullah SAW menjadi rule model utama dalam kita beribadah kepada Allah selama hidup di dunia. Rasulullah SAW menegaskan kepada umatnya agar senantiasa menahan amarah, seperti pada sabda Nabi berikut ini.

Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari)

Kita tidak seharusnya tersulut dengan api amarah ketika melihat/mendengar fenomena-fenomena yang ada di masyarakat. Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir dan memberikan pedoman hidup, Al-Qur’an dan  As-Sunnah untuk kita menjalani kehidupan sesuai perintah-Nya. Menuruti amarah hanya akan menimbulkan pertikaian, kekacauan dan ketidaktentraman di masyarakat. Itu artinya, dengan mengikuti amarah semata bisa jadi mengakibatkan hak-hak dasar masyarakat untuk hidup tenang menjadi terganggu.

Sidang jum’at rohimakumulloh

Sebagai umat islam, tentu sangat manusiawi jika kita sebagai umat islam  tersinggung jika kitab suci kita dinistakan. Tapi tentu ketersinggungan kita tidak boleh menjadi kebencian dan mengindahkan nilai-nilai luhur islam tentang tabayyun, memaafkan, dan membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara diaada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Juga tidak boleh kebencian kita kepeda seseorang atau golongan menjadikan kita tidak berbuat adil kepada mereka. Karena adil adalah  nilai islam yang harus tetap dijunjung tinggi.

Bisa kita renungkan ayat dibawah ini. Supaya kita tetap objektif menilai orang:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى الاَّ تَعْدِلُوْاقلي هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوى. (الما ئدة: ۸–۱۰)

“ ..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.

Maka, jelas jika ada orang-orang islam yang ingin membalas cacian dan  penghinaan orang-orang yang belum faham islam  dengan balasaan reaktif, temperamen dan emosional tentu pembelasan keburukan dengan keburukan  ini bukanlah yang diajarkan islam. Apalagi jika sampai ada yang berkeinginan membunuh pelakunya. Tentu ini adalah tindakan barbar yang tidak mencerminkan agama islam. Karena didalam islam membunuh satu manusia sejatinya sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Sebagai mana firman Allah swt:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍفِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS.Al Maidah: 32).

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati pemimpin yang dzolim, bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan. Sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Maka apabila dalam menasihati rakyat saja memerlukan kaidah dan etika maka menasihati pemimpin harus lebih berkaidah dan beretika. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rosululloh SAW. Dari Ibnu Hakam meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya dengan terang-terangan, akan tetapi nasihatilah dia di tempat sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Tetapi jika tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.” (HR. Imam Ahmad)

Sangat tidak bijaksana mengoreksi dan mengkritik kekeliruan para pemimpin melalui mimbar-mimbar terbuka, tempat-tempat umum ataupun media massa, baik elektronik maupun cetak. Yang demikian itu menimbulkan fitnah. Bahkan terkadang disertai dengan hujatan dan cacian kepada orang perorang. Seharusnya, menasehati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat rahasia, sebagaimana dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasehati Utsman bin Affan, bukan dengan cara mencaci maki mereka di tempat umum atau mimbar. Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang menasehati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasehati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasehati dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.” Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang mukmin menasehati dengan cara rahasia; dan orang jahat menasehati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.” Syaikh bin Baz berkata, “Menasehati para pemimpin dengan cara terang-terangan melalui mimbar atau tempat-tempat umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj Salaf. Sebab, hal itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin. Akan tetapi, (cara) manhaj Salaf dalam menasehati pemimpin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasihat tersebut.”

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Dewasa ini, kejayaan umat Islam bukan sekedar peralatan perang yang canggih ataupun jumlah tentara yang siap berperang  menegakkan agama. Melainkan terletak pada akhlak dan pengaplikasian ajaran-ajarannya yang diperoleh melalui pengajian dengan guru sesungguhnya dan referensi yang mumpuni. Memaafkan dan menjauhi arogansi merupakan bagian yang tak terlepaskan dalam Islam. Tentu dalam menyikapi kasus  ini, umat Islam mesti menunjukan sikap bijaksana sebagai bentuk pengembalian kejayaan Islam yang selama ini ternodai oleh oknum-oknum yang ingin menghancurkan Islam. Dimasa modern ini, umat Islam mesti mampu menyeimbangkan sikap dengan pengetahuan agar tidak mudah terpecah belah oleh kesalah fahaman dan bertindak.

Dewasa ini tidak baik bagi kita jika kita mempersempit makna jihad di jalan Alloh. Banyak cara dan banyak makna dalam berjihad membela agama Alloh. Menuntut ilmu, berbuat baik terhadap sesama, bahkan bekerja dengan giat pun merupakan makna jihad itu sendiri. Jihad tidak harus turun langsung ke medan perang dengan mempertaruhkan nyawa. Ingatlah saudaraku hidup ini hanya sekali selagi kita mampu dan masih diberi nikmat sehat manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, buatlah diri berguna bagi sesama, gali potensinya untuk membantu sesama membangun ukhuwah.

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Maka alangkah mulianya jika kita  memaafkan kesalahan orang lain, karena dengan memaafkan disamping tinggi kedudukan kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawan kita, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan dan tidak mustahil karena memaafkan menjadikan pintu hidayah kepada non muslim yang belum mengenal islam secara mendalam.  Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA)

Juga kita renungkan firman  Allah swt dibawah ini:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

Berangkat dari dalil-dalil yang shorih diatas tadi maka tunggu apalagi, mari kita budayakan ikhlas memberi maaf, berani meminta maaf, terhadap sesama, terhadap keluarga, istri, orang tua, anak,saudara, orang lain bahkan terhadap non muslim. Bahkan terhadap mereka yang sangat membenci kita sekalipun. Sebab tidak ada balasan dari sifat memaafkan selain kemuliaan di sisi Allah. Karena tentu tujuan hidup kita didunia ini hanya untuk mendapat keridhoan Allah swt. Mudah-mudahan dengan memaafkan kita semua diridhai Allah swt didunia dan akhirat. Aamiin

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KONTRA NARASI TEKS KHUTBAH JUMAT

“UNTUK APA ORANG ISLAM BERJIHAD MEMBELA ISLAM”

(Dikeluarkan oleh sariyah dakwah Jama’ah Ansharusy Syariah)

 

 

JIHAD MEMERANGI MUSUH DALAM DIRI SENDIRI

Khotbah I

الحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ لِله الَّذِيْ شَرَعَ عَلَيْنَا الجِهَادَ، وَحَرَّمَ عَلَيْناَ الفَسَادَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ أدَخَرَهَا لِيَوْمِ المِعَاد، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلِى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ  وقال تعالى  يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ   ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً   فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي. صدق الله العظيم. أمَّا بعْدُ

.اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh

 

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri khotiib sendiri khususnya dan kepada jama’ah sekalian marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, karena sesungguhnya sebaik-baiknya tabungan adalah taqwa dan janganlah sekali-kali kita mati kecuali dalam keadaan taqwa. semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bertaqwa kepada Allah, Amin.

Jihad, apa itu jihad? Bagaimanakah realisasi manifestasi jihad yang sesungguhnya saat ini? Apakah harus mengorbankan perdamaian-persaudaraan? Lalu perang yang sesungguhnya itu melawan siapa?

Jama’ah rahimakumullah

Khatib akan memulai khotbah ini dengan sebuah kisah pada zaman Rasulullah di sela-sela perang Khandaq. Saat itu umat Islam pernah ditantang duel Amr bin Abd Wad al-Amiri, dedengkot musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti. Nabi pun bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan memenuhi tantangan ini.

 

Para sahabat terlihat gentar. Nyali mereka surut. Dalam situasi ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib (karramaLlâhu wajhah) maju, menyanggupi ajakan duel Amr bin Abd Wad. Melihat Ali yang masih terlalu muda, Nabi lantas mengulangi tawarannya kepada para sahabat. Hingga tiga kali, memang hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy itu.

 

Menyaksikan yang menghadapinya Ali yang ia anggap hanya seorang “bocah”,  Amr bin Abd Wad menanggapinya dengan tertawa mengejek. Sayyidina Ali tak perengaruh dengan dengan ledekan tersebut. Perkelahian berlangsung sengit, dan nasib mujur pun ternyata ada di tangan Sayyidina Ali.

 

Amr bin Abd Wad tumbang ke tanah setelah mendapat sabetan pedang Sayyidina Ali. Kemenagan Ali sudah di depan mata. Hanya dengan sedikit gerakan saja, nyawa musuh dipastikan melayang.

 

Dalam situasi terpojok Amr bin Abd Wad masih menyempatkan diri membrontak. Tiba-tiba ia meludahi wajah sepupu Rasulullah itu. Menaggapi hinaan ini, Ali justru semakin pasif. Ali menyingkir dan mengurungkan niat membunuh, hingga beberapa saat.

 

Sikapnya yang tak mau melakukan penyerangan terhadap Amr yang meludahi wajahnya menimbulkan tanda tanya. Para sahabat yang menyaksikan penasaran: apa alasan Sayyidina Ali bersikap demikian? Mengapa sayidina Ali hanya diam tidak membunuhnya padahal Amr sudah terpojokan, lemah tak berdaya?

 

Beliau menjawab, ”Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata karena Allah subhânahû wata‘âlâ.”

 

Para jamaah yang semoga dirahmati Allah,

 

Apa hikmah yang kita bisa ambil dari penggalan kisah di atas? Penggalan kisah ini mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat jihad, yang oleh sementara kelompok kadang dimaknai secara serampangan. Meskipun Amr bin Abd Wad akhirnya gugur di tangan Ali tapi proses peperangan ini memberi pesan bahwa perjuangan dan pembelaan Islam mesti dibangun dalam landasan dan etika yang melebihi sekadar luapan kebencian dan kemarahan.

 

Sayyidina Ali menjadikan Allah sebagai satu-satunya dasar. Komitmen ini mudah terucap tapi sangat sukar dalam praktiknya. Teriakan takbir atau pengakuan diri sebagai pemegang tauhid belum sepenuhnya menjamin seseorang bertindak tanpa terpengaruh oleh ego atau nafsu pribadinya: nafsu merasa benar sendiri, nafsu tak ingin tersaingi, serta nafsu membenci dan memusuhi. Karena itu memang menjadi pekerjaan hati, lebih dari aktivitas fisik dan emosi.

 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam sendiri memposisikan jihad dalam pengertian fisik  sebagai jihad yang kalah tingkat dari jihad mengendalikan hawa nafsu. Sepulang dari perang Badar, Nabi pernah berujar:

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, the greatest JIHAD is to bettle your own soul to foght the evil within your self "jihad (memerangi) hawa nafsu.”

 

Kata “Jihad” berasal dari bahasa Arab jâhada yang berarti bersungguh-sungguh. Secara luas ia bisa bermakna lahiriyah, juga batiniyah. Tak semata identik dengan tempur sebagaimana lazim dipahami. Islam memang memberi ruang umat Islam untuk berperang secara fisik, tapi juga memiliki aturan sangat ketat aktivitas kekerasan itu terjadi.

 

Dalam Surat al-Baqarah ayat 190 disebutkan:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“fight in the way of Allah those who fight you but do not transgrees. Indeed. Allah does not like transgressors”

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

Ayat di atas mengandung peringatan bahwa seseorang hanya boleh memerangi orang lain ketika dalam posisi membela diri, persisnya saat keselamatan diri terancam. Itu pun harus dilakukan tidak dengan cara yang membabi buta. Tidak boleh kebencian kita kepada kelompok tertentu membuat kita lantas melakukan apa saja seenaknya kepada mereka. Ada etika di dalamnya. Ada batas kewajaran dan norma yang mesti diikuti. Dalam situasi perang, misalnya, Islam melarang membunuh rakyat sipil, perempuan, anak-anak, dan pemuka agama. Sebagaimana dikatakan Ibnul ‘Arabi dalam Ahkamul Qur’an:

أَلاَ يُقَاتِل إِلاَّ مَنْ قَتَلَ وَهُمْ الرِجَالُ البَالِغُوْنَ، فَأَمَّا النِّسَاءُ وَاْلوِلْدَانُ وَالرَّهْبَانُ فَلَا يُقْتَلُوْنَ

"Janganlah membunuh kecuali terhadap orang yang memerangimu. Orang yang boleh dibunuh di masa perperangan adalah laki-laki dewasa. Adapun perempuan, anak-anak, dan pendeta tidak diperkenankan untuk dibunuh.”

 

Para jamaah Jum’at rahimakumullah

 

Di sinilah letak kedalaman Islam. Jihad tak hanya dimaknai sebagai perjuangan fisik (peperangan) tapi juga perjuangan batin. Ketika ledakan bom memakan banyak sekali korban nyawa tak berdosa; saat hantaman rudal menghasilkan ribuan mayat; kita patut merenung bahwa betapa banyak mudarat yang ditimbulkan tatkala jihad diterjemahkan secara salah dan sepotong-sepotong. Jihad fisik yang berhasrat memenangkan pihak lain tapi secara tak sadar membuat diri pelakunya kalah dari egonya sendiri.

 

Sungguh menghadapi nafsu diri sendiri yang tak tampak lebih berat ketimbang menghadapi musuh di depan mata yang terlihat. Jihad ini juga tak mengandaikan waktu-waktu khusus, melainkan setiap embusan napas, sepanjang masa. Benarlah Rasulullah mengatakan perang melawan diri sendiri sebagai pertempuran akbar karena dalam banyak hal jihad secara selah itu tak terasa dilakukan karena sering kali ia dibalut oleh kenikmatan, atau bahkan argumentasi keagamaan. Padahal hakikat jihad adalah fî sabîliLlâh, bukan fî sabîlil hawâ.

The greatest JIHAD is to battle your own soul to fight evil within your self. (alhadist)

Barakallahu li wa lakum...

 

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Apakah Khilafah Solusi Problematika Ummat ?

 

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang berbahagia, Marilah kita meningkatkan rasa taqwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dan hendaklah berhati-hati pula terhadap segala macam rayuan syaitan yang sangat halus dan pada akhirnya akan menjerumuskan diri kita ke dalam jurang kesengsaraan dunia akhirat dan menempatkan kita dalam neraka jahanam.

 

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang berbahagia,

Sebagian umat Islam berpandangan bahwa, Semua problematika umat yang saat ini terjadi baik itu kemiskinan, politik yang carut marut dan lain sebagainya, itu lahir dari pencampakan hukum Allah SWT Dzat Maha Tahu diganti dengan penerapan hukum buatan manusia yang memang serba lemah. munculnya problematika tadi akibat akar persoalan tak diselesaikan dengan benar. Jadi, seluruh problematika tersebut hanyalah cabang dari problematika utama, yaitu mengembalikan hukum Allah SWT sebagai pemutus segala persoalan hidup umat manusia dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

 

Apakah Mendirikan Khilafah itu Wajib ?

 

Kaum muslimin rahimakumullah diwajibkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan seluruh hukum Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:

 

 وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَ مَا نَهاَكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ......

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah"(QS. Al Hasyr 7).

 

Begitu juga firman Allah SWT:

 

 

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu". (QS. Al Maidah 49)

 

Menurut mereka Ayat-ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin untuk menerapkan hukum-hukum Allah SWT dalam segala bidang, aqidah dan syari’ah, baik persoalan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Demikian pula sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya semuanya diperintahkan Allah SWT untuk diatur dengan aturan Islam. Dan ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kekuasaan. Padahal, kekuasaan terhadap anggota masyarakat akan ada dengan adanya negara (daulah).

 

Berkaitan dengan hal ini, Abdullah bin Umar meriwayatkan: "Aku mendengar Rasulullah berkata: Barangsiapa melepaskan tangannya dari bai’ah niscaya Allah akan menemuinya di

hari kiamat tanpa punya alasan dan barangsiapa mati dan tak ada bai’ah di pundaknya maka mati bagai mati jahiliyah" (HR. Muslim).

 

Maka jelaslah, hukum Islam itu ditegakkan melalui Khilafah. Dengan perkataan lain, Khilafah merupakan solusi problematika umat yang wajib ditegakkan oleh seluruh kaum muslimin. Kenyataan sejarah selama lebih dari 1300 tahun menunjukkan bagaimana Khilafah memecahkan berbagai persoalan.

 

 

Hadirin sidang jumat rohimakumullah

Kerancuan dalam memahami makna khilafah telah menghinggapi kaum muslimin di zaman ini. Mereka membatasi makna khilafah pada kekuasaan yang mencakup seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Mereka menyangka, menurut syari’at hanya khilafah sebagai bentuk pemurnian dalam masalah kekuasaan. Sehingga menyebabkan sebagian para pemuda dari umat ini yang telah Allah berikan semangat, tetapi mereka tidak dianugerahi ilmu dan keteguhan -menolak bentuk-bentuk sistem kekuasaan selain khilafah. Di tengah pengamatan dan ketegersaaan mereka terhadap model pemerintahan teladan tersebut, mereka menggugurkan syarat rusyd (kelurusan) dan hidayah (petunjuk). Sehingga mereka memasukkan pemerintah Utsmaniyah (di Turki, pent) –padahal pemerintahan itu tidak lurus dan tidak mendapatkan petunjuk- sebagai khilafah syar’iyah (yang sesuai dengan syari’at). Sedangkan khilafah dan persatuan –seperti saling tolong menolong- terkadang terjadi di dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, maupun dalam melakukan dosa dan permusuhan.

 

Dalam hal kekhalifahan Pandangan dari para ulama salafi berbeda menafsirkan mengenai khalifah tersebut dalam al-Qur’an. Salah satunya menurut Syaikh Sa’ad Al-Hushain, dimana beliau mendefiniskan khalifah dalam beberapa makna yang diambil dari sumber al-quran dan as-sunah diantaranya yaitu :

Allah Ta’ala telah berfirman kepada para malaikat :

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” [Al-Baqarah : 30]

(Khalifah disini), yaitu suatu kaum yang sebagian mereka akan menggantikan yang lain. [Lihat Ibnu Katsir]. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ

“ … dan Allah menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?” [An-Naml : 62]

Firman-Nya :

وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ

“..dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu” [Hud : 57]

Firman Allah Ta’ala tentang suku ‘Aad :

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ

“ Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh” [Al-A’raf : 69]

Firman Allah Ta’ala tentang suku Tsamud :

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ

“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Aad” [Al-A’raf : 74]

Firman Allah Ta’ala kepada umat Muhammad

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِن بَعْدِهِمْ لِنَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat” [Yunus : 14]

Yang dimaksud khalifah pada ayat pertama (Al-Baqarah : 30) bukanlah Nabi Adam, dengan (berdasarkan) dalil firman Allah Ta’ala.

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ

“(Para malaikat berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang-orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”) [Al-Baqarah :30], karena Nabi Adam disucikan dari hal-hal itu. [lihat Al-Qurtubi]

Dan dijadikan khalifah (pengganti) dalam urusan memakmurkan bumi, harta, dan hukum (kekuasaan), merupakan ujian dari Allah bagi setiap orang yang dijadikan-Nya sebagai khalifah (pengganti) di antara hamba-hamba Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

لِنَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat” [Yunus : 14]

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Dawud.

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai Dawud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pengganti) di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” [Shad : 26]

Allah Ta’ala berfirman memberitakan perkataan Nabi Sulaiman.

قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)” [An-Naml : 40]

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at yang berbahagia,

Dan perlu kita ingat, bahwa dengan Piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal pun Nabi SAW telah meletakkan sendi-sendi kehidupan Nation State untuk masyarakat yang majemuk secara etnis dan agama yang mana secara jelas inti pasal-pasal Piagam Madinah dilukis dengan tinta baru dalam buku Ini. Lebih lanjut, mukaddimah Piagam Madinah tersebut menegaskan bahwa semua penduduk Madinah yang bersifat majemuk itu adalah satu bangsa (innaha ummah wahidah).

 

Adapun pasal yang dimaksud diantaranya yaitu pada pasal 17 dan 47 yang berisi.

 

١٧. وان سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله الا على سواء وعدل بينهم.

Pasal 17 Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka

 

٤٧. ولا يكسب كاسب الاعلى نفسه وان الله على اصدق فى هذه الصحيفة وابره وانه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم. وانه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة الا من ظلم واثم وان الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم

Pasal 47 Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW.

Berdasarkan penegasan itu pula para kiai di Indonesia berpendapat bahwa bangsa dibangun dan didirikan tidak berdasarkan agama saja (based on religion), tetapi berdasarkan pluralitas (based on plurality). Berdasarkan piagam tersebut mereka meyakini bahwa NKRI yang berdasarkan UUD 1945 adalah upaya final bagi umat Islam dalam rangka mendirikan sebuah Negara. 

 

Thursday, 07 December 2017 16:42

Dari "Negative Thinking" Hingga Ekstremisme

Oleh: Muhammad Afthon Lubbi
 
 
Alkisah, seorang petani miskin di suatu desa kecil kehilangan satu-satunya kuda jantan kesayangan yang ia gunakan untuk membantu menggarap sawah miliknya. Dengan keadaan seperti itu, banyak pekerjaannya yang terhambat.
 
Para tetangga banyak yang iba atas musibah tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir dan 'nyinyir', menganggap bahwa petani tersebut mendapatkan kesialan.
 
Alih-alih tidak menanggapi komentar-komentar negatif tersebut, Pak Tani tetap terus melanjutkan pekerjaannya menggarap sawah. Ia hanya berpikir bahwa kehilangan tersebut mungkin saja sebuah kesialan atau juga bukan.
 
Selang beberapa hari, kuda kesayangannya kembali dari hutan dengan membawa kuda betina. Betapa bahagianya Pak Tani, selain mendapatkan kuda tambahan, ada kemungkinan kedua pasangan kuda tersebut akan beranak pinak menjadi banyak.
 
Beberapa bulan kemudian, petani miskin tertimpa musibah lagi. Anak laki-laki semata wayangnya jatuh dari kuda dan mengalami patah tulang kaki. Lagi-lagi, tetangganya berkomentar dengan nada sinis. Meski ada beberapa yang iba atas musibah tersebut.
 
Di saat kemalangan yang menimpa Pak Tani, tersiar berita dari Kerajaan bahwa setiap rakyat yang memiliki anak laki-laki wajib mengirimkannya untuk ikut perang. Alangkah bersyukurnya Pak Tani, ia tidak berpisah dengan anak kesayangannya karena tidak wajib mengirimkan putranya sebab patah tulang kaki. 
 
Para tetangga mulai berubah pandangan, bahwa di setiap musibah yang menimpa Pak Tani, selalu ada hikmah yang mengikuti. Sejak saat itu, penduduk desa tersebut membiasakan selalu bersabar dan bersyukur atas segala kemalangan yang menimpa.
 
Kira-kira begitulah kekuatan "positive thinking", tidak hanya membuat orang menjadi kuat dan sabar, tapi juga menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Bertolak belakang dengan "negative thinking", membuat orang selalu memandang buruk segala hal. Tidak hanya musibah, suatu kebaikan pun seringkali dilihat sisi negatifnya.
 
"Saya kesel deh sama bawahan saya, kerjanya selalu lambam". "Wuhh! Hujan lagi! Ngeselin!!". "Gurunya ngasih PR mulu, bete!!". Demikian contoh kalimat manusia dalam menghadapi realita sehari-hari dengan sikap yang negatif. 
 
Sebenarnya, dalam realita yang sama, dengan kacamata 'Pak Tani' di atas, kita bisa mengubah sikap dengan pandangan positif. "Alhamdulillah, bawahan saya bekerja dengan tekun,  membutuhkan waktu yang lama". "Hujan lagi, bisa kumpul dengan keluarga di rumah". "Banyak PR dari Pak Guru, ayo belajar bareng sambil bikin rujak".
 
Dalam tahap tertentu, pandangan negatif kita sehari-hari akan membawa kita kepada gangguan psikologis. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, sikap negatif bisa menghadirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan hasrat dan harapan.
 
"Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Indonesia akan hancur!  Ganti Presiden! Ganti Demokrasi!!". "Musibah dimana-mana.  Salah SBY! Salah Jokowi!". Kalimat-kalimat demikian biasanya disampaikan dengan emosi negatif tanpa kemampuan analisa yang baik.
 
Sebenarnya kalimat-kalimat di atas bisa diubah dengan kalimat positif. Misal, "Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Presiden harus lebih kuat dan bekerja keras!  Demokrasi harus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat!". "Musibah dimana-mana, mari bersinergi dan bekerjasama membangun Bangsa!".
 
Kalimat negatif yang diulang berkali-kali tidak hanya akan membentuk pribadi yang negatif, tapi juga bisa menyerang syaraf otak untuk berpikir. Dalam bahasa psikologi disebut "Neuro-Linguistic". Maka untuk menyembuhkan gangguan psikologis ini, para ahli psikologi membuat "obat penawar" yang disebut "Reframing". Yaitu salah satu tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang digunakan untuk mengubah emosi negatif menjadi positif dengan mengubah sudut pandang. Seperti cara pandang "Pak Tani" di atas, yang selalu 'positive thinking'.
 
Kemiskinan dan keterpurukan umat Islam adalah masalah bagi masyarakat umum. Tidak hanya dalam umat Islam terdapat kemiskinan, umat agama lain juga terdapat kemiskinan dan keterpurukan. Maka perlu pemberdayaan ekonomi yang dilakukan bersama-sama. Perlu program dan kebijakan pemerintah yang baik. Perlu pemerataan ekonomi.
 
Konflik dan keretakan Umat Islam adalah konflik sosial yang dihadapi semua kelompok manusia di muka bumi. Perlu dialog, rekonsiliasi, ishlah, dan negosiasi untuk persatuan umat. Bukan perang pendapat apalagi perang fisik yang tidak akan menyelesaikan masalah.
 
Korupsi, maksiat, dan segala jenis kejahatan semakin merajalela dianggap karena tidak menegakan hukum Allah, tidak mendirikan daulah Islamiyah, tidak menggunakan sistem khilafah dan menyalahkan sistem demokrasi yang dipilih para pendiri Bangsa sebagai sebuah konsensus bersama. Sistem demokrasi harus diganti total tanpa dialog, tanpa musyawarah, dan menafikan ijtihad para tokoh Islam yang juga mengerti betul tentang agama, KH. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, KH.  Abdul Kahar Muzakir, dll. Terlebih Bung Karno menyebutkan,  bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasi ala Barat, tapi "Demokrasi Berketuhanan".
 
Khilafah, daulah Islamiyah, syariat Islam, dll. adalah konsep-konsep positif yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi, tidak boleh dipaksakan dengan cara-cara yang negatif. Perlu dialog dan musyawarah secara kontinyu, agar konsep-konsep positif yang baik tersebut dapat mensejahterakan rakyat dengan seadil-adilnya. Dalam alam demokrasi, segala konsep kebaikan dapat diterima.
 
Cara pandang negatif terhadap demokrasi ini pula yang menimbulkan reaksi kekerasan, ekstremisme keagamaan. Segala hal yang berkaitan dengan demokrasi dikaitkan dengan kekafiran. Dan para pendukung demokrasi digolongkan sebagai penyembah toghut, berhala selain Tuhan Allah.
 
Pemahaman seperti  ini pernah dialami Ali Fauzi, adik kandung dari Ali Mukhlas dan Amrozi, pelaku Bom Bali jilid I. Ali  Fauzi memulai karirnya menjadi kombatan sejak 1991 dengan bergabung bersama daulah Islamiah di Malaysia, dan baiat kepada Jamaah Islamiah di Indonesia pada 2004.
 
Karirnya terhenti setelah tertangkap Polisi Filipina pada 2007. Ia dibawa pulang oleh Kombes Tito Karnavian (sekarang Kapolri)  dan dirawat hingga sembuh dari luka-luka. Ali Fauzi terheran-heran, orang yang selama ini ia anggap sebagai thogut dan kafir, justru malah menolong dan merawatnya. Bahkan diberi modal untuk berwirausaha. Kini Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian dan menjadi mitra BNPT dalam program deradikalisasi.
 
Kisah Ali Fauzi di atas menunjukkan bahwa kebencian hanya bisa dipadamkan dengan cinta dan kasih sayang. Sikap dan pandangan negatif hanya bisa diubah dengan menyikapi hal-hal kecil hingga besar dengan kacamata kebaikan.
 
Syaikh Mutawalli As-Sya'rawi pernah berdialog dengan seorang pemuda berhaluan keras dan suka mengkafirkan. Beliau bertanya, "Apakah mengebom sebuah klub malam di Negara muslim itu halal atau haram?", pemuda itu menjawab, "Tentu saja halal, membunuh mereka boleh".
 
Beliau bertanya lagi, "Jika seandainya engkau membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?" Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Tentu di neraka.", "Kemana pula setan menjerumuskan manusia?", Beliau bertanya lagi. "Tentu saja ke neraka. Mustahil setan membawa manusia ke surga.", jawab pemuda. 
 
"Jika demikian, engkau dan setan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan manusia ke dalam neraka." Beliau lalu menyebutkan sebuah kisah dimana ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah SAW., beliau lalu menangis. Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis.  Beliau menjawab, "Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka."
 
"Perhatikan perbedaan kalian dengan Rasulullah yang berusaha memberi petunjuk dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah berada di lembah lain." Pemuda itu hanya diam membisu mendengarnya.
 
Tempo hari, mantan Presiden Afghanistan yang sekarang menjabat Ketua High Peace Council (HCP), Muhammad Karim Khalili berkunjung ke Indonesia. Atas arahan presiden Joko Widodo, Pesantren Darunnajah Jakarta ditunjuk untuk menerima rombongan delegasi HCP.
 
Dalam pidatonya, Muhammad Karim berkeinginan Pemerintah Indonesia untuk mendirikan pesantren di Kabul. Ia menyampaikan bahwa Afghanistan lelah dengan konflik dan perang antar kelompok agama. Indonesia dengan ratusan perbedaan suku,  etnis, dan agama, mampu bertahan menjadi Negara yang damai. Sedangkan Afghanistan yang hanya memiliki beberapa suku dan perbedaan agama belum mampu mengatasi konflik dan perpecahan. 
 
Artinya, kita harus ber-positive thinking dan percaya diri bahwa dengan sistem demokrasi, Indonesia akan menjadi Negara yang besar bangsanya, maju negaranya, dan kuat ukhuwah umatnya dalam menghadapi ekstremisme, terorisme, dan radikalisme.
Page 1 of 15