Jakarta, Parlemen Rakyat

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan aliansi Pesantren for Peace (PFP), sebuah jaringan pesantren Se-Pulau Jawa, menyelenggarakanSeminar "Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstremisme atau Terorisme". Seminar ini bertujuan untuk mendiskusikan dan mengurai problem serta berupaya mencarikan solusi terhadap maraknya aksi terorisme akhir akhir ini.

Seminar ini juga sekaligus membahas upaya upaya penguatan kapasitas Pesantren dalam turut berperan menyebarkan perdamaian melalui pencegahan terhadap wacana wacana kekerasan ekstremisme. Seminar berlangsung Hari ini Jumat, 25 Mei 2018, di Hotel Cemara Jalan KH. Wahid Hasyim No.69, Gondangdia, Menteng, Kota Jakarta Pusat

Hadir sebagai Pembicara: Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar UIN Jakarta), Brigjen Pol. Ir. Hamil, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI), KH. Jazilu Sakhok, Ph.D (Koordinator Alisansi PFP atau PP.Sunan Pandanaran), dan Irfan Abubakar, MA (Direktur CSRC UIN Jakarta). Dan akan dihadiri 78 orang peserta dari Aliansi Pesantren for Peace (PFP), Pesantren pesantren di Jabodetabek, Lembaga lembaga pendidikan Islam, Lembag pemerintah, Aktivis Perdamaian dan media.

Indonesia tahun ini kembali dirundung duka yang ditandai dengan pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Diawali peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur serta, aksi penyerangan di Mapolda Riau. Rangkaian aksi terorisme di atas telah menelan puluhan korban jiwa dan luka luka dari aparat polisi dan warga sipil. 

Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran deologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos betapapun kebijakan pemerintah untuk menahan lajunya. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ldeologi ekstremisme adalah tugas yang berat.

"Terorisme tidak hanya mengancam keamanan karena menyebarluaskan rasa takut, tapi juga dapat mengancam keutuhan bangsa dan harmoni dalam kehidupan sosial," ujar Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, MA.

Dia tambahkan, Narasi penyangkalan terorisme dari sebagain masyarakat yang berkembang di medsos hanya akan menciptakan keraguan sebagian masyarakat akan bahaya terorisme itu sendiri. Selain itu narasi yang sama akan menghambat upaya pemerintah dan masyarakat sipil untuk mencegah dan menangkal ideologi ekstremis yang menjadi daya dorong yang tak henti dari aksi aksi teror selama ini. 

Pemerintah, masyarakat dan media justru semakin diperlukan sinergi dan kekompakan untuk melancarkan kontra narasi terhadap narasi ekstremis dan memberikan narasi alternatif kepada masyarakat yang terpapar. Termasuk dalam hal ini pesantren sebagai benteng pertahanan Islam dari ideologi ekstremis semakin diharapkan perannya dalam mengembangkan strategi kontra narasi dan narasi alternatif yang mempromosikan persatuan, perdamaian, toleransi dan kesalehan yang sesungguhnya.

Target capaian seminar ini paling tidak: pertama, meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan pesantren untuk melakukan pencegahan terorisme melalui kontra narasi esktremis dan narasi alternatif. Kedua, memperkuat jaringan pesantren dan civil society melalui “Aliansi Pesantren for Peace” untuk menyebarluaskan ajara Islam yang pro perdamaian, toleran, terbuka dan mengedepankan maslahat umum, "Pungkas" Irfan Abubakar, MA. (Ahr)

 
 
  • 0 comment
  • Read 132 times
Login to post comments