Pesantrenforpeace.com - [14-16/09] Sejak Juli 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) mengembangkan sebuah program “Kontra Narasi Ekstremis”. Pada tahun 2018 program tersebut dikemas dalam tema “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan Ustadz/Ustadzah Pesantren dalam menyuarakan perdamaian, toleransi dan Hak Asasi Manusia melalui kontra narasi ekstremis melalui khutbah, ceramah, di media online dan media sosial.

Program Kontra Narasi Ekstremis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan mulai dari penelitian, penulisan modul dan Training of Trainers (ToT). Hasil penelitian sebagai bahan untuk memperkuat konten, fasilitasi dan bentuk modul yang sesuai dengan kebutuhan pesantren. Karena itu, modul dibuat berdasarkan rekomendasi dari temuan penelitian khususnya bagaimana menyusun kontra narasi yang efektif dan strategi penyampaiannya melalui khutbah, ceramah, di media sosial dan online. Setelah modul selesai pada tanggal 7-9 Agustus 2018 yang lalu diadakan Training of Traniners (ToT) bagi ustadz/ustadzah pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Program ini dimaksudkan untuk memproduksi trainer kontra narasi ekstremis yang disiapkan untuk menjadi trainer dalam training-traning yang akan datang.

Berdasarkan hasil supervisi dan pemantauan tim manajeman terhadap proses Training of Terainers tersebut, ustadz/ustadzah telah memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya khususnya dalam memahami narasi ekstremis dan menyusun kontra narasi ekstremis. Tetapi ada konsep-konsep dasar yang perlu ditingkatkan wawasan dan pengetahaun 30 calon trainer dalam memahami kata-kata kunci penting yang dikembangkan dalam ideologi ekstremis. Kata-kata kunci tersebut seperti: Jihad di masa damai, Hijrah ke Darul Islam,  Ideologi takfir, al-Wala wal Barra, ilusi Khilafah Islamiyah, menuduh Thoghut kepada pemerintah muslim.

Untuk memudahkan para ustadz/ustadzah memahami narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis, konten modul akan ditambahkan dengan konsep-kosep dan materi penting. Pertama, penambahan Glossary kata-kata kunci di atas terutama dalam materi ideologi ekstremis. Kedua, dalam materi narasi ekstremis  akan ditambahkan dengan materi singkat bagaimana mengidentifikasi ciri-ciri narasi ekstremis secara cepat dan tepat. Ketiga, materi kontra narasi ekstremis akan ditambahkan contoh-contoh kontra narasi ekstremis terhadap ide ekstremis yang spesifik dan akan berikan contoh-contoh narasi induk secara singkat untuk kontra narasi ekstremis. Masukan pengembangan modul ini didapatkan dari masukan penting dalam ToT yang menjadi dasar dan referensi dalam melakukan perbaikan dan penyempurnaan modul.                              

Berdasarkan hasil evaluasi peserta memperlihatkan bahwa pelaksanaan ToT cukup berhasil berdasarkan penilaian pada konten training, proses, trainer, fasilitator dan tujuan yang ingin dicapai dalam traning. Salah satu indikator keberhasilan training dapat dilihat dari tartget capaian yang hendak dicapai dalam training. Hasil evaluasi peserta menunjukkan bahwa: pertama, ustadz/ustadzah merasakan peningkatan 80% pengetahuan tentang perdamaian, toleransi, HAM dan penyusunan Kontra Narasi Ekstrimis yang efektif melalui khutbah, ceramah maupun di media online. Kedua, sangat meningkatkan 93,3% keterampilan ustadz/ustadzah tentang materi, teknik-teknik fasilitasi dan keterampilan untuk menjadi trainer kontra narasi ekstrimis dengan pendekatan partisipatori.

 

Namun Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ini belum diimbangi dengan praktek fasilitasi yang memadai. Berdasarkan kesan dan pesan peserta hampir semuanya merasa kurang maksimal dalam sesi praktek terutama praktek kelas besar perwakilan dari materi training berdasarkan masing-masing kelompok. Hal ini terjadi karena hanya ada satu sesi selama dua jam untuk mempraktekan 6 sesi penting mulai dari sesi perdamaian dalam Islam, Ideologi Ekstremis, Narasi Ekstremis dan daya pikatnya, Kontra Narasi Ekstremis, menyusun kontra narasi ekstremis dan Praktek Menyusun Kontra Narasi. Tidak mungkin akan dapat mempraktikkan materi secara baik dalam alokasi waktu yang sangat terbatas.

 

Hasil evaluasi menunjukkan perlunya untuk memberikan waktu yang cukup terhadap Ustadz/ustadzah sebagai calon trainer untuk mempraktekkan sesi materi modul sesuai dengan konten, kisi-kisi, metode dan alokasi waktu berdasarkan tanggungjawab sesinya masing-masing. Oleh karenanya Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Microteaching “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Program ini dimaksudkan untuk memproduksi trainer kontra narasi ekstremis yang mumpuni dan trampil dalam training-training yang akan datang.

Tujuan kegiatan micro teaching ini untuk meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah pesantren tentang perdamaian, toleransi, HAM dan penyusunan Kontra Narasi Ekstremis, mempraktekkan materi-materi modul kontra narasi ekstremis secara nyata sebagai proses latihan berbagai keterampilan dasar training partisipatori, serta mencetak Ustadz/ustadzah sebagai trainer yang berkompeten, berkualitas dan terampil menjadi trainer kontra narasi ekstrimis dengan pendekatan partisipatori dalam training yang akan datang.

Program microteaching ini memfokuskan sesi praktek sebagai proses latihan secara nyata bagi para ustadz/ustadzah sebagai calon trainer kontra narasi ekstremis. Setelah pembukaan calon trainer dan peserta akan dibagi kedalam 3 kelompok. Masing masing kelompok dihadiri 10 peserta ustad/ustadzah muda pesantren dari Bandung dan sekitarnya yang secara sengaja dihadirkan untuk memaksimalkan hasil praktek fasilitasi yang didasampaikan oleh calon trainer tersebut. Sementara trainer akan juga dibagi berdasarkan kelompok berdasarkan semua sesi training. Di setiap kelompok secara paralel calon trainer mempraktekkan materi dari sesi pertama hingga sesi akhir yaitu: Pertama, Niai-nilai damai dalam Islam. Kedua, ideologi ekstrimis. Ketiga, memahami narasi ekstrimis dan daya pikatnya. Keempat, memahami kontra narasi ekstrimis. Kelima, Penyusunan kontra narasi ekstrimis. Keenam, praktek penyusunan kontra narasi ekstrimis, Ketujuh, praktek penyampaian kontra narasi ekstremis. Penyampaian materi sepenuhnya perpedoman pada modul yang sudah disiapkan baik dari sisi konten, metode dan langkah-langkah fasilitasi dalam modul. Praktek di masing-masing kelompok akan dimonitoring oleh 1 orang supervisior yang akan mensupervisi dengan menggunakan tools monitoring yang sudah disiapkan oleh tim manajeman.

 

Hadir dalam acara ini Dr. TB Ace Hasan Syadzily, M.Si (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI) sebagai keynote speaker; serta Irfan Abubakar, MA. (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Alamsyah M. Djafar (Wahid Foundation), dan Muchtadlirin (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebagai supervisor yang mensukseskan acara ini. Trainer dalam Microteaching ini adalah 30 unstad/ustadzah dari 5 provinsi se-Pulau Jawa: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Juga diikuti oleh 30 peserta ustadz/ustadzah muda pesantren se-Bandung Raya dengan kriteria: Ustadz/Ustadzah muda Pondok Pesantren, Berusia antara 18-25 tahun, Memiliki jiwa kepemimpinan dan dakwah, Memiliki motivasi yang kuat untuk mengembangkan diri, dan Bersedia untuk mengikuti microteacing dari awal sampai akhir dan menginap di hotel pada tanggal 14-16 September 2018.

  • 0 comment
  • Read 145 times
Login to post comments