Pesantrenforpeace.com - [Solo, 17-19 /10] Akhir-akhir ini Indonesia dikejutkan dengan beberapa peristiwa kekerasan, pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat. Mulai dari peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur, aksi penyerangan di Mapolda Riau dan penangkapan teroris di berbagai tempat. Rangkaian aksi terorisme ini telah menelan puluhan korban jiwa dan luka-luka dari aparat polisi dan warga sipil.

Fakta di atas, menunjukkan bahwa ideologi ekstremisme dan terorisme masih ada dan terpelihara di negeri ini, begitu pula jaringan terorisme masih eksis dan bahkan berhasil memperluas cakupan, memperbaiki cara dan metodenya, dan memperbanyak pengikutnya. Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih-benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak-anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran ideologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ideologi ekstremisme adalah tugas yang berat. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Menurut Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI) mengatakan bahwa perekrutan teroris saat ini banyak dilakukan melalui media sosial, pertemanan, dan perkawinan. Penyebaran ekstremisme masuk ke lembaga pendidikan mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi  negeri dan swasta. Lebih jauh Hamli mengatakan bahwa yang rentan terpengaruh ideologi radikal adalah anak-anak, ibu-ibu, PTN, SD, SMP, SMA.

Hasil Penelitian Faisal Nurdin Idris (Peneliti CSRC) menunjukkan bahwa narasi ekstremisme menyebar salah satunya melalui jalur media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, buletin, majalah, selebaran, dan blog. Jalur ini merupakan faktor eksternal yang membentuk pemahaman dan pengetahuan seseorang. Dengan adanya respon yang kemudian diolah oleh otak dan jiwa manusia, maka hasil olahan tersebut akan melahirkan tindakan. Tindakan tersebut tergantung dari stimulus yang masuk kepada otak dan pikiran manusia. Jika narasi yang disebarkan adalah kebaikan, maka respon dan tindakan dari sang penerima narasi juga akan baik, demikian juga sebaliknya.

Menurut Faisal, narasi-narasi yang dibangun dan disebarkan oleh kelompok radikal adalah narasi kebencian seperti kebencian terhadap Yahudi dan Nasrani, kebencian terhadap Ahmadiyah dan Syiah, anti terhadap demokrasi, dan pentingnya penegakan syariat Islam. Narasi-narasi tersebut dibangun atas dasar narasi lain seperti adanya ketidakadilan dalam bidang ekonomi, dalam kekuasaan, dan imperialisme dari negara-negara Barat. Narasi-narasi tersebut terus dihembuskan, dikumandangkan, diajarkan, dan didoktrinkan melalui media sosial, pengajian-pengajian, seminar-seminar, dan diksusi-diksusi rutin. Dengan cara-cara tersebut, maka kemudian membentuk satu kesadaran yang menjadi keyakinan, dan keyakinan ini selanjutnya menjadi ideologi yang mendorong setiap orang yang meyakininya untuk bertindak, memerangi orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan keyakinannya tersebut.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa narasi ekstremisme disebarkan secara masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstremisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan media-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk mencegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstremis.

CSRC UIN Jakarta dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pondok Pesantren dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pesantren dalam melakukan analisis konten narasi ekstremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi ekstremis  melalui khutbah, ceramah, di media sosial dan media online.

Untuk mencapai tujuan di atas, pada bulan Maret-Juni 2018 melakukan penelitian dan penulisan modul. Penilitian dilakukan dengan melakukan pemetaan narasi ekstrimis dan kontra narasi ekstrimis di media online dan off-line. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk-bentuk berbeda dari pesan dan narasi ekstremis yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini fokus dalam menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Hasil penelitian ini menjadi bahan untuk memperkuat desain modul dari pengembangan materi training sebelumnya. Setelah penelitian program dilanjutkan dengan pengembangan modul kontra narasi ekstremis. Modul dibuat berdasarkan rekomendasi dari temuan penelitian khususnya bagaimana menyusun kontra narasi yang efektif dan strategi penyampaiannya di media sosial dan online. Disamping itu, modul juga dibuat secara praktis dan mudah dipahami oleh ustadz/ustadzah pesantren. Setelah penulisan modul dilanjutkan dengan Training of Traniners (ToT) dan micro-teaching bagi ustadz/ustadzah pesantren. Program ini telah memproduksi trainer kontra narasi ekstrimis dari kalangan pesantren yang akan menjadi trainer dalam training-traning yang akan berlangsung datang.

Menindak lanjuti program di atas, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang dan dengan dukungan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) mengadakan Training bagi ustadz/ustadzah muda pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Kegiatan ini merupakan ikhtiar CSRC, Pondok Pesantren Edi Mancoro, dan KAS untuk memutus menguatnya narasi-narasi ekstremis dengan melakukan kontra narasi dengan cara menyebarkan dan mempromosikan pemahaman yang memiliki nilai inklusif, toleran, saling menghargai antar sesama.

Tujuan Training ini antara lain meningkatkan kesadaran ustadz/ustadzah muda akan bahaya ideologi ekstremis, meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah muda dalam mengenali narasi ekstremis, serta meningkatkan keterampilan ustadz/ustadzah muda dalam menyusun kontra narasi ekstremis melalui Khutbah, Ceramah dan di media online.

Para trainer muda yang terlibat dalam training ini diantaranya: Muhammad Hanif (PP. Edi Mancoro Semarang), Fahsin M. Faal (PP. Kyai gading Demak), Cholilullah (PP. Asnawiyah Demak), Aris Rofiqi (PP Mahasiswa An-Nur Semarang), Alfiatu Rohmah (PP. Edi Mancoro Semarang), serta Nasif Ubbadah (PP. Al-Muntaha Salatiga). Hadir pula sebagai supervisor training Irfan Abubakar, MA. (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Muchtadlirin (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

30 unstad/ustadzah muda se-Surakarta dan sekitarnya sangat antusias dalam training yang diselenggarakan di Hotel Novotel Solo, 17-19 Oktober 2018 ini, bahkan mereka turut meramaikan instagram @pesantren4peace dengan hastag #pesantrenforpeace , #pesantrenforpeacesolo dan #kontranarasiekstremis [LH]

 

Related items

Login to post comments