Yogyakarta, 29 April-1 Mei 2019

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta dan dengan dukungan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) telah mengadakan Training bagi ustadz/ustadzah muda pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdamaian dan Toleransi”.

Training ini berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 29 April sampai dengan 1 Mei 2019 di hotel Harper Mangkubumi, Gowongan, Jetis, Yogyakarta. Sebanyak 30 Ustadz/ustadzah dari berbagai pesantren di Yogyakarta aktif menjadi peserta dalam training ini dengan dilatih oleh 6 trainer muda yang mumpuni di bidang kontra narasi ekstremis. Keenam trainer tersebut diantaranya Ustadz Khoirun Niat (PP. An-Nur Yogyakarta),  Ustadz Ade Supriyadi (PP. Mahasiswa Al-Luqmaniyah Yogyakarta), Ustadz Moh. Yahya (PP. Sunan Pandanaran Yogyakarta), Ustadz Muhammad Taufiq Ridho (PP Aji Mahasiswa Al-Muhsin Yogyakarta), dan Ustadz Rifqi Fairuz (PP. Sunan Pandanaran Yogyakarta).

Kegiatan ini merupakan ikhtiar CSRC, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, dan KAS untuk memutus menguatnya narasi-narasi ekstremis dengan melakukan kontra narasi dengan cara menyebarkan dan mempromosikan pemahaman yang memiliki nilai inklusif, toleran, saling menghargai antar sesama.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris Hemay, M.Si. menyampaikan “Penyebaran ideologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ideologi ekstremisme adalah tugas yang berat. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu”.

Narasi ekstremisme disebarkan secara masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstremisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan media-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk mencegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstremis.

Dengan dilatarbelakangi permasalahan tersebut, CSRC sangat optimis bahwa training kontra narasi ekstremis ini akan meningkatkan kesadaran ustadz/ustadzah muda akan bahaya ideologi ekstremis. Selain itu, juga meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah muda dalam mengenali narasi ekstremis, serta meningkatkan keterampilan ustadz/ustadzah muda dalam menyusun kontra narasi ekstremis melalui Khutbah, Ceramah dan Pembelajaran. [LH]

  • 0 comment
  • Read 27 times
Login to post comments