Suatu sore, aku duduk di teras gedung pondok sambil memandangi beberapa santri yang duduk-duduk di atas batu besar. Ada yang sibuk membaca buku, ada yang bercanda dengan temannya yang lain, sambil mendengarkan lantunan Al Quran yang mengalun lembut dari pengeras suara masjid menembus dinding-dinding asrama, dari kamar tidur hingga kamar mandi yang berjejer panjang, melengkapi riuh nyanyian santri yang sedang asik mengucek baju kotornya, berpadu dengan suara percikan air yang keluar dari keran-keran. Harmoni musik yang magis.

Hembusan angin menjatuhkan daun-daun yang menguning dari ranting-ranting pohon, menambah rasa damai yang tidak hanya hadir di sudut-sudut masjid, tapi juga hadir kepada siapa saja yang memandang, melalui mata, masuk ke dalam syaraf dan sel-sel otak, hingga merasuk ke ruang hati yang terdalam. Nyes! Sejuk!

Kehidupan indah nan damai di pesantren, kadang terusik (bisa juga diusik) oleh suara-suara parau dari kehidupan dunia luar sana. Kabar nasib bangsa dan negara yang pasang-surut jatuh-bangun sering hilir mudik ke telinga-telinga santri.

Santri yang baik akan menganggapnya sebagai dinamika dunia saja, tak akan kaget dan gumun terhadap apapun yang terjadi di luar sana. Karena ia tahu, bahwa ia sedang bersemedi di pesantren. Belum saatnya turun gunung, ia masih muda, masih banyak kitab yang harus ia pelajari. Maka belum saatnya keluar dari tempat persemedian, apalagi sok jadi pendekar yang ingin menyelamatkan Bangsa dan Negara ini dari penjahat-penjahat penjarah tanah warga.

Belum, belum saatnya, belum cukup ilmu. Jika santri memaksa diri keluar, nanti jadi sok jagoan, hantam sana hantam sini, semua orang yang berbeda dengan pendapat santri ini, akan dianggap musuh yang membahayakan agama dan juga negara. Padahal yang bahaya ia sendiri, karena ilmunya belum cukup, tapi ingin jadi jagoan. Bahaya!

Aku teringat kawan, lebih tepatnya kakak kelas satu perguruan. Pribadinya tenang, santun, tidak banyak bicara kecuali hal-hal penting. Padahal, menurut kawanku yang lain yang pernah duduk satu kelas dengannya, ia memiliki wawasan yang sangat luas, tidak hanya ilmu agama, tapi juga berbagai disiplin ilmu yang lain. Ia bisa bergaul dengan siapa saja, mulai dari masyarakat biasa yang awam ajaran agama, hingga mereka yang mempunyai pendidikan dan jabatan yang tinggi di masyarakat. Ia bisa mengimbangi apa saja tema pembicaraan, tidak melebihi ataupun mengurangi, komunikasi yang baik kepada siapa saja adalah tujuannya.

Padahal, ketika menjadi santri, ia terlihat biasa-biasa saja. Mungkin karena ia dididik oleh ayah yang pernah menjadi ketua umum organisasi Islam terbesar di negeri ini, dan memiliki banyak guru dzahir dan juga guru batin, membuatnya menjadi pribadi yang "biasa-biasa saja", sangat tenang dan santun, menyadari diri bahwa ia masih harus bersemedi, belum saatnya turun gunung dan jadi pendekar. Ciaaaaat!!

Itulah santri di pesantren. Petapa yang harus kuat menahan segala godaan gelimang dunia. Matanya menerawang jauh ke dunia yang luas, namun hatinya tetap diajak duduk di atas batu sambil belajar, berdzikir, dan bertasbih, mengawasi dan mengamati keadaan diri. Tidak ada hal lain yang penting, kecuali terus memperbaiki sinyal komunikasi dirinya dan Tuhan yang menciptakannya.

Hanya saja, santri dan pesantren masa kini tidak seperti zaman dahulu. Atau boleh disebut sudah sangat sedikit yang bisa disebut "PESANTREN". Bahkan sudah jauh orientasinya. Jauh, sangat jauh. Kawah candra di muka yang seharusnya melahirkan generasi "mundzirul qoum idza roja'u" ini, sekarang tidak lagi. Keluar pesantren daftar jadi buruh di perusahaan-perusahaan besar yang terkadang mengabaikan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan demi mengejar keuntungan komersial. Ilmunya kurang tapi pandai berdalil.

Kenyataanya memang seperti itu. Banyak berdiri lembaga pendidikan dengan memasang plang pondok pesantren, tapi nyatanya tak ubahnya dengan pabrik pencetak buruh. Kurikulum pun disusun sedemikan rupa. Hingga pemahaman ajaran agamanya kurang, keluar pesantren jadi sok jagoan. Senggol dikit, bakar! Beda dikit, bubarkan!

Santri sekarang, tidak lagi duduk manis di atas batu untuk bersemedi. Tempat persemediannya berubah. Warnet dan rental Play Station adalah tempat mereka bersemedia. Maka tidak heran, karena tidak paham metodologi penentuan hukum, jika ditanya tentang hukum rujukannya adalah Hadrotu Al Syaikh Al 'Alaamah Kyai Al Haaj Al Googliyah.

Afthon Lubbi Nuriz
Cidokom Bogor, 17 Ramadhan 1437.

  • 0 comment
  • Read 497 times
Login to post comments