Red: Agus Yulianto

Gunadi PM

Pondok Pesantren Alquran Babussalam Bandung menggelar acara silaturahim akbar di komplek pesantrennya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (22/8). Acara ini merupakan salah satu upaya Pontren Alquran Babussalam dalam mengampanyekan kerukunan hidup

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fadhlullah Muh Said *)

Pesantren sudah saatnya tampil menjadi duta dengan missi mempromosikan perdamaian dan menebarkan 'virus-virus' ini dalam tatanan kehidupan masyarakat dari akar bawah hingga atas. Perdamaian adalah inti dan pokok seluruh ajaran agama baik agama-agama bumi (earthly religions) dan agama-agama wahyu (revealed religions). Cita-cita tertinggi semua agama adalah terwujudnya perdamaian tanpa kekerasan.

Namun pada kenyataannya, semua agama tidak selalu dapat memainkan peran tersebut. Ketiga agama yang diklaim agama Nabi Ibrahim (Abrahami religions), Yahudi, Kristianitas, dan Islam sering dipandang bahkan tertuduh sebagai agama yang lebih rawan bagi kekerasan, radikalisme, konflik, dan terorisme. Terbukti dari waktu ke waktu, agama digunakan kelompok yang memiliki agenda keagamaan dan politik tertentu untuk menyebar kebencian, konflik, kekerasan, bahkan perang.

Hal ini sulit dipungkiri, karena diberbagai belahan dunia termasuk Timur Tengah masih terjadi konflik, kekerasan, terorisme, dan perang atas nama agama. Di Indonesia sendiri mengalami kondisi ini. Kasus dugaan penistaan agama mulai berkeliaran, teror bom rumah ibadah seperti gereja mulai marak. Pelecehan ulama menjadi penyakit baru masyarakat  melalu media soial.

Pembunuhan karakter dari berbagai linik sangat terasa. Tensi dan konflik ini terjadi bukan hanya antaragama, melainkan intraagama -di antara mazhab (Sunni-Syiah dan Ibadiyah), aliran (Ahmadiyah dan Islam Jamaah), atau denominasi dalam agama tertentu. Kebencian sektarian, salah satu sumber kekerasan agama, bahkan sering disebut menjadi penyebab intoleransi agama secara kronis.

Perbedaan pemahaman dan amaliyah praktis, ritual yang bisa saja muncul secara alamiah dalam agama manapun, sepanjang sejarah sering sangat pahit, keras, dan kejam. Apalagi, pertikaian dan kekerasan sektarian hampir selalu bermuatan politis, baik dari segi kelompok agama pelaku kekerasan maupun dari segi negara. Hal ini, karena perbedaan yang ada di antara berbagai aliran dan paham dalam satu agama dan apalagi di antara agama berbeda cenderung dijadikan sebagai sumber pertikaian, dan takfiri yang sering tidak berujung.

Kenyataan ini terus berlanjut, seolah memperkuat dugaan bahwa wajah agama yang terkesan ambigu, sehingga menimbulkan skeptisisme sebagian orang pada agama. Pada satu pihak, ada wajah agama yang ditampilkan untuk  mengajarkan perdamaian, harmoni, dan hidup berdampingan di antara umat beragama yang berbeda sebagai inti dan pokok ajaran agama itu.

Tetapi, pada pihak lain, ada wajah agama yang ditampilkan oleh sebagian kecil penganutnya sebagai wajah yang sangar, dan intoleran, seolah-olah mengajarkan pertikaian dan kekerasan dengan menampilkan ketidakrukunan, tensi, konflik, dan bahkan perang. Keadaan ini, semakin membuat sebagian masyarata phobia terhadap agama dan menganggap agama bukanlah bagian dari solusi tetapi bagian dari masalah.

Sulit ditolak, sebagian orang khususnya para Islampobia menuduh bahwa agama secara inheren (mengajarkan) kekerasan telah diterima begitu saja atau diamini take of granted dan nyata dengan sendirinya self evident. Meskipun ajaran agama yang dipegangi mayoritas umat beragama saat ini adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan kecintaan. Bagian terbesar umat beragama adalah orang-orang pencinta damai yang ingin mengabdikan dirinya melalui penyerahan diri sepenuhnya (submission) kepada Tuhan untuk kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.

Kemajemukan Rasial dan Budaya

Sejak awal agama Islam menyadari penghadapannya dengan kemajemukan rasial dan budaya. Karena itu, ia tumbuh kembang bebas dari klaim-klaim eksklusivitas rasialistis ataupun linguistis. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, tidak pernah mentolerir pemeluknya menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan (al-ghayat). Bahkan, untuk mencapai tujuan yang baik sekalipun, umat Islam tidak ditolerir untuk menempuh jalur kekerasan, harus secara damai seperti pepatah orang Sunda 'herang cainya menang lauknya'. Maksudnya, airnya tetap jernih dan ikannya tetap dapat, artinya masalah dapat diselesaikan tanpa memperkeruh suasana meskipun prakteknya diakui amat sulit.

Dalam sejarahnya, Islam terbukti lebih banyak menampilkan perdamaian daripada pertikaian, konflik, dan peperangan. Kehadiran Islam sudah didiskenariokan oleh Tuhan menjadi agama terakhir karena kahadirannya harus mewujudkan kedamaian. Tuhan Maha Tahu bahwa problem manusia di akhir zaman adalah kedamaian. Dalam Alquran istilah perdamaian lebih banyak daripada istilah perang. Kata damai atau perdamaian terkandung dalam kata al-silm, al-salam al-Islam atau al-shulhu dan al-‘afwu dan musyawarah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu sendiri adalah agama perdamaian, bukan agama perang, lebih menekankan hidup damai daripada kekacauan.

Secara harfiah, ditegaskan dalam Alquran, bahwa pertamakali yang menyadari makna al-Islam ini sebagai inti agama yang  memberikan kedamaian, memberikan keamanan, menyelamatkan dan kepasrahan adalah Nabi Nuh as, Rasul Allah urutan ketiga dalam deretan dua puluh lima Rasul setelah Adam dan Idris. "...dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang al-muslimun (pasrah yang damai)," QS Yunus [10]:71-72.

Kesadaran al-Islam ini tumbuh dengan kuat dan tegas pada diri Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim diperintahkan ber-Islam seperti hanya Nabi Nuh, QS al-Baqarah [2]:131-132. Al-Islam ini kemudian diwasiatkan Nabi Ibrahim kepada anak dan keturunannya yaitu Nabi Ya’qub dan Israil agar tidak bergeser walaupun sejengkal atau sedetik pun hingga kematian menjemputnya. Al-Islam sebagai inti agama sebagai ajaran Nabi Musa, QS al-Maidah [5]:44 dan Yunus [10]:90. Begitu juga Nabi Isa as. Putra Maryam, beliau datang dengan membawa al-Salam (kedamaian) sebagaimana tercermin dari penuturan Nabi Isa kepada pengikutnya, QS Alu Imran [3]:52 al-Maidah [5]:111.

Atas dasar itu, al-Islam adalah inti semua agama yang benar, maka Islam menjadi landasan universal kehidupan manusia, berlaku untuk setiap manusia, dan setiap tempat dan waktu, QS Alu Imran [3]:20. Karena al-Islam merupakan titik temu semua ajaran yang benar, maka di antara sesama penganut agama kepasrahan dan kedamaian pada perinsipnya harus dibina hubungan dan pergaulan yang harmonis, damai, cinta kecuali dalam kondisi terpaksa seperti jika ada salah satu yang bertindak zalim terhadap yang lainnya. Islam menjadi nama sebuah agama sebagai pemberian Tuhan langsung. Namun ia bukan sekedar nama, tapi nama yang tumbuh karena hakekat dan inti ajaran ini adalah kepasrahan kepada Allah dan kedamaian yang penuh cinta.

Dengan itu, seorang pengikut Muhammad adalah seorang Muslim par excellence yang senantiasa sadar akan hakikat kedamaian, kepasrahan, ketulusan yaitu al-Islam. Karena kesadaran akan makna hakiki Islam itu maka al-Islam, muslim, dan umat Islam mempunyai inpulse universalisme kesatuan umat manusia, QS. Yunus [10]:19 dan al-Baqarah[2]:213. (wihdat al-insaniyah, the unity of humanity) sebagai kelanjutan konsep ke-Maha Esa-an Tuhan (wahdaniyah atau tauhid, the unity of god). Bahkan dalam perang pun, sebelum Nabi SAW perang beliau terlebih dulu mengajak lawan-lawannya berdamai. Perang terjadi ketika komunikasi sudah buntu dan terputus, negosiasi memiliki jalan buntu.

Dalam konteks perdamaian, Islam dapat dimaknai bahwa hakikat Islam adalah agama cinta yang menjunjung tinggi kedamaian. Islam adalah agama yang diturunkan Allah sejak Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan agama sebelumnya. Islam bukanlah sekte atau agama etnis, ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi yang terdahulu. Islam adalah agama perdamaian yang mengajarkan sikap pasrah kepada Sang Pencipta al-Khaliq Tuhan Yang Maha Esa. Kepasrahan ini tanpa membatasi hanya kepada komunitas atau kelompok agama-agama tertentu, karena itu al-Islam bersifat alami, wajar, fitri dan natural.

Bertebaran ayat-ayat Alquran serta hadis Nabi berkaitan dengan kedamaian. Agama yang disampaikan Nabi tidak dinisbatkan pada dirinya berbeda dengan agama lain karena hakikat agama yang dibawa adalah kedamaian, maka Tuhan menamakannya al-Islam. Islam dilihat dari aspek semiotika dan simantik berarti damai.

Terbukti, dalam kehidupan Nabi SAW, beliau lebih menonjolkan kedamaian daripada pertentangan, konflik dan kekerasan. Sejak awal, Nabi SAW mempertontonkan kecintaannya pada perdamaian, sikapnya selalu tampil sebagai penengah dan pembawa perdamaian baik disaat beliau tinggal di Mekah maupun di Madinah.

Pada saat Nabi SAW di Mekah, beliau telah banyak  mendamaikan kaum Quraisy. Salah satunya ketika kaum Quraish berselisih bahkan bertengkar mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajaratu al-Aswad di tempatnya semula. Demikian halnya di saat Nabi di Madinah, pertikaian suku Aus dan Khazraj secara massif dan intensif di Madinah jauh sebelum Islam hadir tanpa bisa didamaikan oleh siapapun, akibatnya tidak sedikit harta  dan darah tumpah. Namun kehadiran Nabi SAW di Madinah membawah berkah bagi kedua suku ini, termasuk umat-umat lainnya. Nabi SAW tampil menjadi pahlawan perdamaian diantara kedua suku yang bertikai. Bahkan kedua suku ini tampil menjadi pembela setia Rasulullah dan mendapatkan gelar kaum Anshar (kaum penolong).

Dalam konteks yang lain, tercermin dalam sikap Nabi SAW ketika beliau tinggal di Madinah. Beliau melakukan perjanjian dengan kelompok agama yang ada di Madinah yang dikenal shahifah al-Madinah (Piagam Madinah) dengan maksud agar saling menjaga perdamaian. Perjanjian Hudaibiyah bersama kaum Qurasy Kufar Makkah yang diprotes oleh mayoritas sahabat meskipun dari aspek kekuatan Nabi bisa melakukan pemaksaan dan melumpuhkan kekuatan kafir Quraisy kala itu.

Dalam Fathu Makkah, Nabi SAW bukan unjuk kekuatan kaum muslimin kepada oligarki Quraisy yang menguasai Makkah tetapi “long march” itu adalah prosesi religius manusia dalam menundukkan amarah. Nabi SAW mempertontonkan perang perdamaian yaitu perang manusia mengendalikan amarah seraya beliau mengumumkan bahwa siapa yang masuk Masjidil Haram akan aman, siapa yang menutup pintu dan jendela rumanya akan aman, dan siapa yang masuk berkumpul di rumah Abu Sufyan dan Umayah akan aman.

Akhlak Nabi SAW Bermuatan Perdamaian

Banyak akhlak Nabi SAW bermuatan perdamaian. Beliau menebarkan kedamaian bukan hanya di antara kaum muslimin termasuk kepada manusia pada umumnya dan makhluk lainnya. Nabi SAW menghormati jenazah orang Yahudi dengan cara berdiri sebagai ungkapan hormatnya ketika jenazah lewat di depannya, (HR Bukhari dan Muslim). Memaafkan penduduk Thaif yang telah menolak dan mengusirnya, bahkan mendoakannya supaya lahir dari sulbi mereka anak keturunan yang menyembah Tuhannya satu saat.

Memaafkan dan meminta ampunkan orang yang enggan masuk Islam. Seorang kaum Anshar minta izin kepada Rasulullah agar anaknya yang Nasrani bisa dipaksa menjadi seorang Muslim. Rasulullah menolak permintaan sahabatnya seraya membacakan surat al-Baqarah [2]:256. Rasulullah tidak pernah memukul dan menghukum kecuali setelah jelas pelanggarannya. Menghargai perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara sahabatnya termasuk dalam bacaan Alquran.

Meskipun telah terjadi peperangan dalam perjuangan dakwah Islam, tetapi Islam telah mempertontonkan perdamaian yang dikehendaki. Hal ini bisa dirujuk dalam Piagam Madinah, perjanjian Hudaibiyah, dan pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Kisah bermuatan nilai-nilai perdamaian sulit disangkal adanya. Rasulullah SAW hidup berdampingan dengan Yahudi, dan Nashrani di Madinah dan tersirat secara gamblang betapa Rasulullah SAW menghargai kerukuran hidup beragama secara damai.

Islam atau al-Islam dengan berbagai derivasinya sebagaimana makna harfiahnya menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap perinsip-prinsip perdamaian. Esensi perdamaian ini sangat penting dipahami karena umat manusia pada hakikarnya berasal dari satu garis nenek moyang yaitu Adam dan Hawa, QS al-Nisa [4]:1. Perselisihan yang terjadi harus ishlah (damai). Untuk bisa menegakkan perdamaian dan islah itu, agama memerintahkan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dan melarang kesyirikan melalui penegakan Ma’rifatullah (pengenalan dan pemantapan diri pada Allah swt.).

Islam memerintahkan untuk menegakkan kejujuran dan melarang kizib/bohong. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka tanpa melihat agamanya, dan lain-lain.

Selain itu, Islam memerintahkan tasamuh/toleran terhadap perbedaan, memberikan penyadaran bahwa perpedaan yang terjadi adalah sunatullah,  QS al-Maidah [5]:48 sekaligus ditegaskan bahwa perbedaan itu bukanlah ukuran sebuah kehormatan dan kemuliaan, tetapi lebih pada kualitas takwanya, QS al-Hujurat [49]:13. Pada Perang Uhud, beliau yang celaka tidak mau mendoakan laknat kepada musuh-musuhnya. Bahkan beliau mengungkapkan yang artinya: “Aku tidak diutus oleh Allah sebagai pelaknat. Aku adalah seorang penyeru dan rahmat bagi manusia.” Selanjutnya Nabi berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, karena sesungguhnya mereka tak mengetahuinya.” (Hr. Al-Baihaqi)

Pendeknya, keberagaman itu mestinya senantiasa menyebarkan vibrasi damai dan kasih sayang bagi lingkungan ( rahmatan lil alamin), bukannya menyebarkan rasa sesak dan semangat untuk berantem dan mengalahkan orang lain dengan kedok agama. Setiap orang yang beragama mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatan dirinya terjaga, dan perilaku serta tutur katanya enak dipandang dan didengar. Mestinya dengan agama seseorang lebih percaya diri, enak bergaul, dan sehat jiwa raganya. Pendek kata, orang itu harus merasa nyaman terhadap dirinya di mana pun ia berada sekaligu memberikan rasa damai. Begitulah sikap ke;:beragaman, ibaratnya pakaian yang dia pakai ukurannya pas, serasi, dan kelihatan elok jika tidak pas pasti ada yang salah.

Berdasarkan uraian di atas, tergambarkan bahwa hakikat perdamaian yang dikehendaki Islam tidak terbatas pada zona Islam, tetapi melampaui teritorial Islam bahkan seluruh makhluk Tuhan. Peperangan dan hukuman pelanggaran bukanlah dimaksudkan untuk mentolerir kezaliman, kekerasan, konflik, tetapi sebaliknya untuk melindungi dan menolak kezaliman, intoleransi, kekerasan, konflik sesuai dengan porsinya. Semuanya ini, dimaksudkan untuk menjaga perdamaian, hidup rukun, aman dan tenang, sebagai agama yang dikenal “Islam is a religion of Peace”.

Dalam konteks itu, peningkatan peran agama dalam mempromosikan nilai-nilai perdamaian dunia perlu didukung kondisi dan iklim politik yang kondusif. Sistem dan proses politik otoriter, represif, dan tidak adil mendorong terciptanya situasi tidak damai yang penuh konflik dan kekerasan. Dengan demikian, saatnya pesantren tampil mengisi ruang ini, berperan menjadi promotor nilai-nilai perdamaian dalam berbagai forum nasional, regional, dan internasional, khususnya di wilayah Nusantara dalam berbangsa, bernegara dan beragama. Inilah sekelumis harapan perdamaian yang terurai dalam acara Pesantern for Peace baru-baru ini di Pon-Pes Alquran Babussalam al-Muchtariah Ciburial Dago Atas Bandung. Allahu ‘Alam bil al-shawab.

*) Ketua Yayasan Ponpes Babussalam Ciburial Dago Bandung

 

artikel ini dimuat di: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/11/30/ohgpv5396-saatnya-pesantren-jadi-duta-perdamaian

  • 0 comment
  • Read 461 times
Login to post comments