Benih konflik Sunni-Syiah di Desa Nangkernang dan Blu’uran Kecamatan Omben dan Karangpenang, Kabupaten Sampang muncul sejak seorang tokoh ulama setempat, Kiyai Makmun, berniat mengirim anaknya untuk menuntut ilmu ke Pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan, antara 1987 hingga 1993. Pesantren tersebut dikenal cenderung kepada madzhab Syiah.[1] Keputusan Kiyai Makmun tersebut diambil setelah beliau tertarik dengan sosok Imam Khomaeni danajaran Syiah dengan mempelajari buku-buku yang dikirim sahabatnya dari Iran.Keputusan Kiyai Makmun selanjutnya diketahui dan ditentang oleh sepupunya, Kiyai Ali Karrar Shinhaji, pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid di Kabupaten Pamekasan yang saat itu baru pulang belajar dari Mekkah karena dianggapnya bertentangan dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. K. Makmun adalah ayah dari Tajul Muluk dan Raisul Hukamayang belakangan berkonflik.

Kiyai Karrar menjaga jarak dengan Kiayai Makmun setelah K. Makmun menganut Syiah. Bahkan menurut Iklil, putra K. Makmun, keduanya pernah perang argumen soal wafatnya cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein, yang menurut Kiyai Karrar keduanya meninggal sejak kecil. Namun, pandangan itu diluruskan oleh K. Makmun dalam rangka membantah pandangan Kiyai Karrar bahwa jika mereka berdua wafat sejak kecil mengapa Sayyed Maliki al-Hasani yang merupakan keturunan Hasan menjadi gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya pernah berdebat soal keyakinan masing-masing namun belum berujung pada konflik berdarah.

 

[1]Syiah hadir di tengah masyarakat Madura yang berjumlah 3,62 juta jiwa (versi BPS 2010), yang hampir seluruhnya adalah mayoritas Islam Sunni (NU) yang fanatik.

 

 

Untuk Laporan Selengkapnya bisa didownload dilink berikut

Laporan Penelitian Jawa Timur

  • 0 comment
  • Read 503 times
Login to post comments