Ada ironi kelam di Yogyakarta. Sebagai kota yang mengklaim diri the city of tolerance, kota peninggalan para sultan Mataram itu belakangan justru dibuat gaduh oleh kasus-kasus intoleransi agama yang terus muncul dan menunjukkan intensitas meningkat. Kasus-kasus yang dimaksud tidak hanya terkait hubungan intra-agama (Islam) namun juga antaragama, khususnya Islam dan non-Islam. Pertentangan antarsekte dalam Islam meramaikan wacana keagamaan, bahkan tampak di ruang-ruang publik. Spanduk bertulisan “kesesatan Syiah”, misalnya, sempat menghiasi ruas-ruas jalan di Yogyakarta sepanjang tahun 2015 lalu.

Kasus yang banyak menyita pemberitaan media massa lokal maupun nasional adalah seputar hubungan antaragama, khususnya antara Islam dan Kristen (Protestan maupun Katholik). Kasus ini mengemuka hampir sepanjang tahun 2014 -- walaupun di tahun-tahun sebelumnya juga terjadi namun intensitasnya tidak sesering di tahun 2014.

Konfigurasi sosial-budaya Yogyakarta yang multikultur sebenarnya menuntut adanya sikap saling memahami dan menghormati perbedaan. Sultan Hamengku Buwono X sendiri sebagai penguasa telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan melestarikan pluralisme di Yogyakarta. Sikap ini idealnya diteladani pula oleh segenap warganya jika ingin melihat kota bersejarah ini tetap berdenyut dalam harmoni dan kedamaian sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak.

Sayangnya, sesuatu yang diharapkan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Nilai-nilai luhur yang diwarisi dari budaya adiluhung di masa lalu tampaknya secara perlahan mulai tergerus. Dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul kelompok-kelompok yang kurang memahami dan menghayati norma-norma budaya Yogya yang bertumpu pada semangat kerukunan dan toleransi dalam perbedaan. Bukan hanya mengabaikan kerukunan dan toleransi, kelompok-kelompok ini juga mencoba menebarkan virus kekerasan dan pemaksaan kehendak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Tulisan yang merupakan laporan penelitian ini akan mencoba menggambarkan fenomena di atas, dan secara khusus akan difokuskan pada kasus-kasus intoleransi agama. Dalam konteks ini, yang akan disasar ialah akar permasalahannya, lalu dilihat bagaimana masalah itu ditangani dalam kerangka perspektif hak asasi manusia (HAM).

Selain itu, tulisan ini juga akan melihat sejauhmana komunitas-komunitas pesantren di Yogyakarta “memiliki peran” dalam kasus-kasus intoleransi yang terjadi, dan tentu saja, secara objektif juga akan ditelusuri peran positif mereka dalam mengantisipasi, menangani, dan memediasi kasus-kasus intoleransi agama yang muncul di lingkungan mereka. Bagaimanapun, pesantren memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membentuk pandangan dan perilaku umat, karena itu posisi pesantren dalam kasus-kasus di atas tidak bisa diabaikan.

 

 

 

Untuk Laporan Selengkapnya bisa didownload di link berikut

Laporan Penelitian DI Yogyakarta

  • 0 comment
  • Read 511 times
Login to post comments